Keajaiban Quran Tentang Istilah "Firaun" & "Raja", Kehebatan Penceritaan Sejarah


Banyak yang mengklaim jika Al-Quran adalah teks yang dikarang-karang oleh nabi Muhammad. Selebihnya mengatakan, cerita-cerita dalam Al-Quran merupakan hasil contekan nabi Muhammad dari kitab Taurat maupun Injil.

Berikut dalam tulisan ini saya akan mensucikan nama baginda dari tuduhan tersebut. Melalui tulisan ini akan kita zahirkan bukti bahwa Quran memang benar-benar datangnya dari Tuhan pemilik alam. Lalu mereka menuduh jika Quran adalah hasil contekan dari Taurat dan Injil mereka, begitu pula pada tulisan ini kan saya padukan antara isi Alkitab dengan isi Al-Quran sekiranya mana yang lebih otentik, atas izin dan kuasa Allah saya memohon semoga tulisan ini dimudahkan untuk difahami.

Bukti bahwa Al-Quran bukan hasil ciplakan dari Alkitab dapat kita lihat bagaimana kedua kitab ini menceritakan tentang raja-raja mesir atau Firaun.

Merujuk kitab suci umat Kristen, Alkitab menggunakan istilah "Firaun" untuk merujuk pada penguasa Mesir dalam kisah Musa, Yusuf dan Abraham:

Kemudian Firaun menyuruh memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari tutupan;  ia bercukur  dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Firaun. (Kejadian 41:14 Versi TB)

Lalu Firaun memanggil Abraham serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku?  Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? (Kejadian 12:18 Versi TB)

Pada malam itu juga, Firaun memanggil Musa dan Harun, lalu berkata, "Bangkitlah, keluarlah kamu dari antara rakyatku, baik kamu maupun keturunan Israel, dan pergi, layanilah TUHAN seperti katamu itu. (Keluaran 12:31 Versi AYT 2018)

Hal ini berbeda dengan Al-Quran. Dalam Al-Quran Allah hanya menggunakan istilah Fir'aun untuk penceritaan kisah Musa. Namun ketika menceritakan kisah Yusuf, Allah tidak menggunnakan istilah Fir'aun tetapi "Raja", padahal raja yang dimaksud dalam kisah Yusuf adalah raja Mesir, kenapa tidak disebutkan denngan istilah Firaun?:

Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami". (Yusuf: 54)

Kalau seandainya Al-Quran menceplak dari Alkitab, seharusnya pada surat Yusuf ayat 54 tidak menggunakan istilah Raja, melainkan dengan istilah Fir'aun.

Namun hal ini masih menimbulkan kontroversi, mengingat Fir'aun adalah Raja, dan raja Mesir disebut dengan atau memiliki gelar sebutan sebagai Fir'aun. Lalu apa rahasia dibalik perbedaan penggunaan redaksi Raja pada kisah Yusuf dan redaksi Firaun pada kisah Musa, apakah ada rahasia dibalik itu?

Perlu diketahui bahwa sebenarnya istilah Fir'aun yang disematkan pada raja-raja Mesir itu baru digunakan pada era Kerajaan Mesir Baru (New Kingdom). Sebagaimana keterangan tulisan Hireoglif (tulisan Mesir kuno) yang dikutip dari buku 'Egyptian Hieroglyphs' yang diterbitkan oleh British Museum:

Demikian pula, dari Kamus British Museum Dictionary Of Ancient Egypt menegaskan bahwa kata 'Firaun' pertama kali digunakan untuk merujuk pada raja di Periode Kerajaan Baru:

Firaun: Istilah yang digunakan secara teratur oleh penulis modern untuk merujuk pada raja Mesir. Kata ini adalah bentuk Yunani dari frase Mesir kuno per-aa ('rumah besar') yang awalnya digunakan untuk merujuk ke istana kerajaan daripada raja. 'Rumah besar' bertanggung jawab atas perpajakan 'rumah' yang lebih rendah (perw), seperti tanah kuil dan perkebunan pribadi. Dari Kerajaan Baru (1550-1069 SM) dan seterusnya, istilah ini digunakan untuk merujuk pada raja sendiri. [“Pharaoh” dalam I. Shaw & P. Nicholson, British Museum Dictionary Of Ancient Egypt, 1995, British Museum Press: London, hlm. 222.].

Selanjutnya saya akan membahas kapan tepatnya Yusuf dan Musa berada di Mesir, untuk menegaskan apakah ketika mereka berada di Mesir raja-rajanya sudah menggunakan istilah Fir'aun. Kalau anda merasa kesulitan, silahkan langsung meluncur ke submenu Kesimpulan dibawah.

Kapan Masa Kerajaan Baru Mesir?

Sejarah Mesir kuno biasanya dibagi menjadi periode-periode yang kira-kira sesuai dengan tiga puluh dinasti raja yang terdaftar oleh Manetho, seorang penulis sejarah Mesir abad ke-3 SM. Berikut rangkuman masanya di bawah ini dari Buku Sejarah Mesir Kuno karya Nicolas Grimal [N. Grimal (Trans. Ian Shaw), A History Of Ancient Egypt, 1988 (1992 print), Blackwell Publishers: Oxford, pp. 389-395.] (klik pada gambar untuk memperbesar):


Menurut wikipedia yang dikutip dari The Oxford History of Ancient Egypt menyatakan, Kerajaan Baru Mesir adalah periode dalam sejarah Mesir Kuno antara abad ke-16 SM hingga abad ke-11 SM, meliputi masa dinasti ke-18, ke-19, dan ke-20. Kerajaan Baru merupakan periode sesudah Periode Menengah Kedua. Setelah Kerajaan Baru berakhir, Mesir Kuno memasuki Periode Menengah Ketiga.

Kapan Yusuf & Ya'kub Masuk Ke Mesir?

Profesor Emeritus dari Egyptology Kenneth Kitchen mengabadikan kisah pada Periode Menengah Kedua (sekitar 1674-1553 SM) selama masa Hyksos berdasarkan bukti dari kitab Kejadian dan membandingkannya dengan sejarah Mesir kuno. [K. A. Kitchen, The Bible In Its World: Archaeology And The Bible Today, 1977, The Paternoster Press: Exeter, Hal. 74.]

Hyksos termasuk dalam kelompok campuran Semit-Asia yang menyusup ke Mesir selama Kerajaan Tengah dan menjadi penguasa Mesir Hilir selama Periode Menengah Kedua (c. 1674-1553 SM). Pandangan yang paling didukung oleh bukti dan sebagian besar cendekiawan tampaknya adalah bahwa Yusuf memasuki Mesir selama masa Hyksos. Kamus Alkitab Ilustrasi Nelson menjelaskan bahwa naiknya Yusuf ke posisi penting hanya bisa terjadi di bawah pemerintahan Hyksos:

Kesimpulan, masuknya Yusuf di Mesir dapat diberi tanggal pada Periode Menengah Kedua (c. 1674-1553 SM), masa ketika Hyksos memerintah Mesir.

Kapan Musa Berada Di Mesir?

Musa lahir di Mesir, para ahli telah mencoba menemukan periode yang ditempati oleh Musa dalam sejarah Kerajaan Baru. Menurut Kamus Dictionary Of Proper Names And Places In The Bible, disebutkan:

Masa Musa adalah ca. 1250, tanggal yang secara umum diterima untuk Keluaran (Eksodus). [“Moses” dalam O. Odelain and R. Séguineau (Trans. M. J. O’Connell), Dictionary Of Proper Names And Places In The Bible, 1981, op. cit., hal. 270.]

Demikian pula, Encyclopaedia Judaica menggambarkan Musa sebagai:

... pemimpin, nabi, dan pemberi hukum (paruh pertama abad ke-13 SM). [“Moses”, Encyclopaedia Judaica, 1971, Volume 12, Encyclopaedia Judaica Jerusalem, col. 371.]

Diyakini Musa hidup pada masa Fir'aun Ramses II, karena hanya mumi Ramses II ditemukan dengan bekas rendaman air garam akibat tenggelam di laut. Ramses II adalah firaun Mesir ketiga yang berasal dari dinasti ke-19.

Itu artinya Yusuf masuk ke Mesir ketika Mesir sedang dikuasai antara dinasti ke 13-17 (1674-1553 SM) pada periode menengah kedua. Dan Musa berada di Mesir pada periode Kerajaan Baru (1552-1069 SM) antara dinasti ke 18-20.

KESIMPULAN

Istilah "Firaun" yang disematkan kepada raja-raja Mesir baru diberlakukan pada masa Periode Kerajaan Baru Mesir  (1552-1069 SM). Sedangkan Yusuf masuk ke Mesir pada masa Periode Pertengahan Kedua Mesir  (1674-1553 SM) pada masa Hyksos, oleh karenanya ketika itu belum dikenal istilah Fir'aun oleh mereka untuk penggunaan istilah pada rajanya. Apalagi raja Mesir di era Nabi Ibrahim yang jauh sebelum Yusuf tentu rajanya tidak menggunakan istilah Firaun.

Oleh karenanya dalam Al-Quran maupun Hadits ketika menceritakan kisah Ibrahim, Yusuf dan Ya'kub tidak menggunakan istilah Firaun, melainkan Raja. Karena ketika itu raja-raja Mesir tidak menggunakan istilah tersebut.

Adapun Musa hidup pada era Periode Kerajaan Baru Mesir  (1552-1069 SM) yang raja-rajanya sudah menggunakan istilah 'Firaun'. Dan Musa hidup pada masa kekuasaan Firaun Ramses II yang berasal dari dinasti ke-19. Oleh karenanya dalam Al-Quran menyebutkan raja Mesir ini dengan istilah Fir'aun, karena ketika itu mereka menyebut rajanya dengan sebutan Fir'aun.

Sedangkan dalam kitab suci umat Kristiani, menyebutkan raja Mesir pada masa Ibrahim dan Yusuf dengan sebutan Fir'aun. Padahal pada masa Ibrahim (Abraham) dan Yusuf mereka tidak menggunakan istilah Firaun kepada rajanya. Pertanyaanya, manakah yang lebih otentik secara sejarah? siapakah yang lebih memahami sejarah?

Kalau Al-Quran adalah hasil ceplakan dari Alkitab, pertanyaanya kenapa Al-Quran lebih relevan dalam penceritaan sejarah dari pada Alkitab?

Kalau Al-Quran adalah hasil karangan Nabi Muhammad, pertanyaanya dari manakah Beliau bisa mengetahui realitas sejarah Mesir? Sedangkan manusia baru dapat membaca tulisan Mesir kuno (hireoglif) pada abad ke-19, dengan penemuan Batu Rosetta, oleh Orientalis Perancis Jean-François Champollion pada tahun 1822. Dari manakah Rasulullah bisa mengetahuinya?

Penggunakan redaksi Raja pada penceritaan Yusuf dan Firaun pada penceritaan Musa adalah sesuatu yang disengaja untuk membuktikan bahwa Al-Quran bukanlah karya tulis manusia, mengingat Rasulullah tidak bisa menulis. Melainkan wahyu dari Tuhan yang sebenarnya, Allah yang menciptakan alam dan yang maha kuasa atas sejarah yang ada.

Lalu bagian mana lagikah yang harus kita tidak yakini bahwa Quran memang benar-benar dari Allah?

2 comments:

  1. Syukron ilmunya.... Jika di izinkan boleh kami share dengan menyantumkan link ini?

    ReplyDelete

Powered by Blogger.