Putri Duyung Dalam Kitab Para Ulama

Thursday, January 18, 2018

Mengenai pembahasan putri duyung memang penuh kotroversi, di internet sendiri banyak beredar video-video dan foto mengenai wujud putri duyung. Baik yang masih hidup meupun yang sudah menjadi fosil.

Namun pembahasa kita kali ini berbeda dengan pembahasan mainstream lainnya di internet. Karena yang akan kita bahas adalah pandangan agama terhadap puri duyung mulai dari keberadaannya, wujudnya, rupanya, hukum menikahinya dan memakannya.

Pembahasan kita merujuk beberapa kitab, yaitu kitab Ajwibah Az-Zurqani, kitab Hasyiyah Al-Bujairimy, kitab Hayaah Al-hayawan dan beberapa pendapat uama kontemporer seperti Ibnu Utsaimin dan Syaikh Shalih Fauzan.
  1. Kitab Ajwibah Az-Zarqani adalah kitab yang berisi jawaban-jawaban Az-Zarqani. Az-Zarqani sendiri merupakan ulama besar bermadzab Maliki dan hidup hingga wafat di Kairo. 
  2. Kitab Hasyiyah Al-Bujairimy atau nama lengkapnya Tuhfah Al-Habib ‘Alaa Syarh Al-Khatiib. yaitu kitab yang menguraikan fiqih madzhab Imam Syafii. Kitab ini dikarang oleh al Syeikh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al Bujairimi al Syafii, atau dikenal dengan nama imam Bujairimi.
  3. Kitab Hayah Al-Hayawan adalah kitab yang membahas tentang berbagai macam jenis hewan yang ada dan macam-macamnya. Di dalam kitab ini banyak sekali disebutkan hewan-hewan yang sangat unik juga langka yang mungkin saat ini sudah punah atau tidak diketahui lagi keberadaannya. Kitab ini disusun oleh seorang ulama mesir bermadzhab Syafi’iyyah yang bernama Kamaluddin Muhammad bin Musa ad-Damiry.
Namun sebelumnya tolong digaris bawahi dulu bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa ikan duyung itu ada atau tidak. Postingan ini hanya memberikan informasi dan wawasan tentang ikan duyungn dalam kitab-kitab ulama.

Ikan duyung atau putri duyung diyakini sebagai makhluk mitologi hewan laut setengah manusia dan setengah ikan.  Putri duyung kerap dikaitkan dengan peristiwa berbahaya seperti banjir, badai, kapal karam dan penenggelaman. Pada tradisi lainnya putri duyung digambarkan memiliki sifat baik dan pemurah, menganugerahkan hadiah atau jatuh cinta pada manusia.

Kisah putri duyung muncul dalam cerita rakyat dari berbagai budaya di seluruh dunia, meliputi Timur Dekat, Eropa, Afrika, dan Asia. Kisah pertamanya muncul pada masa Asiria Kuno, tentang seorang dewi bernama Atargatis yang mengubah wujudnya menjadi seorang putri duyung lantaran malu telah membunuh kekasihnya tanpa sengaja. Masyarakat Babilonia juga menyembah putri duyung sebagai dewa laut yang dikenal sebagai Ea atau Oannes; Oannes digambarkan sebagai duyung jantan.

Dalam mitologi Yunani, putri duyung dikatakan selalu menggoda para pelaut yang lalai; siapa saja yang tergoda akan menemui ajalnya. Putri duyung juga dikaitkan dengan makhluk siren dalam mitologi Yunani.

Putri duyung juga menjadi salah satu subjek populer dalam bidang seni dan sastra pada abad modern ini, contohnya dalam karya Hans Christian Andersen yang terkenal, "The Little Mermaid" (1836). Karya sastra tersebut telah berungkali diadaptasi sebagai opera, lukisan, buku, film, dan komik.

Putri duyung memiliki sebutan yang berbeda di tiap tempat, Mami Wata dari Afrika barat dan tengah; Russalki (Rusalka) dari Rusia dan Ukraina;  dan Merrow dari Irlandia.

Sedangkan dalam Kitab Ajwibah Az-Zarqani disebut dengan Admiyatul Bahr atau peri laut. Dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairimi disebut dengan Banaatul Ruum. Dalam kitab Hayah Al-Hayawaan disebut dengan Insanul Ma’ serta Syaikul Bahr untuk yang jantannya dan Syaikh Fauzan menyebutnya Hurriyyah.

Mengenai adanya makhluk ini belum dapat dipastikan. Kristoforus Kolumbus menyatakan bahwa ia pernah melihat putri duyung saat menjelajah Laut Karibia, dan laporan penampakan juga ada pada abad ke-20 dan ke-21 di Kanada, palestina, dan Zimbabwe.

Dalam kitab Hasyiyah Bujairimi jilid 4 halam 230 Ar-Rauyani Asy-Syafi’i bercerita tentang para pelaut;


“Bahwasanya beliau (Ar-Rauyani) jika didatangi oleh nelayan yang membawa ikan dalam bentuk seorang wanita, maka beliau meminta sumpah dari nelayan itu bahwa dia tidak pernah menyetubuhinya” (Tuhfah Al-Habib ‘Alaa Syarh Al-Khatiib 4/325)

Dalam Kitab Hayaah Al-Hayawan jilid 1 halaman 46,

إنسان الماء يشبه الإنسان، إلا أن له ذنبا. قال القزويني: وقد جاء شخص بواحد منها في زماننا، مقدر كما ذكرنا. وقيل: إن في بحر الشأم، في بعض الأوقات من شكله شكل إنسان وله لحية بيضاء، يسمونه شيخ البحر، فإذا رآه الناس استبشروا بالخصب.

“Manusia laut adalah hewan yang menyerupai manusia, namun dia memiliki ekor. Al-Qazwaini berkata: ‘Ada seseorang yang datang membawa hewan ini di zaman kami dengan bentuk yang telah kami sebutkan’. Dan disebutkan: Sesungguhnya di laut Syam di beberapa waktu ada hewan yang bentuknya menyerupai bentuk manusia dan dia memiliki jenggot yang putih, mereka menamainya dengan ‘Syaikh Al-Bahr’. Jika dia dilihat oleh manusia maka mereka senang.” (Hayaah Al-Hayawaan 1/46)

Mengenai fisik, ceritanya putri duyung merupakan hewan yang mirip dengan wanita dan cantik. Hal ini juga diterangkan dalam kitab Hasyiyah Al-Bujairimi jilid 4 halaman 230.


“Banaat Ar-Ruum adalah ikan di laut yang menyerupai wanita. Dia memiliki rambut yang terurai panjang. Warnanya condong ke coklat-coklatan, memiliki farj (kemaluan) dan payudara. Dapat berbicara namun tidak dapat dipahami, mereka tertawa dan terbahak-bahak. Terkadang ikan ini tertangkap oleh para pelaut kemudian dinikahi dan dikembalikan lagi ke laut” (Tuhfah Al-Habib ‘Alaa Syarh Al-Khatiib 4/325)

Lalu bagaimana hukumnya menyetubuhi atau menikahi putri duyung?

Imam Az-Zarqani menjelaskan dalam kitabnya Ajwibah Az-Zurqani hal 46;


Al-Imam Az-Zurqani Al-Maliki -rahimahullah-, beliau ditanya:  

“Peri laut jika dinikahi oleh manusia, apakah peri laut tersebut akan bersama manusia itu kelak masuk surga?”

Beliau menjawab:

“Peri laut termasuk dari kalangan hewan, maka tidak boleh menikahinya. Dan jika disetubuhi, maka pelakunya harus dihukum ta’dib/ta’ziir (hukuman yang bukan hadd karena sebuah tindakan kemaksiatan dan kriminalitas). Dan peri laut pada hari kiamat akan menjadi debu seperti hewan-hewan lainnya” (Ajwibah Az-Zurqani hal. 46)

Dalam Hasyiyah bujairimi Ar-Rauyani Asy-Syafi’i meminta sumpah dari nelayan yang mendapatkan putri duyung untuk tidak pernah menyetubuhinya.

Artinya menyetubuhi putri duyung sama dengan menyetubuhi hewan dan dihukumi ta’zir. Itu karena putri duyung merupakan jenis dari hewan, lalu apakah putri duyung bisa dimakan?

Syaikh Fauzan pernah ditanya mengenai hukum memakan putri duyung;

فضيلة الشيخ وفقكم الله : يذكر بعض المختصين بالأسماك في البحر أن هناك سمكة رأسها كرأس المرأة ولها شعر ووجه كوجه المرأة ، فهل يجوز أكلها , وهي ما يسمى بالحورية؟

“Wahai syaikh yang mulia -semoga Allah selalu memberi taufik-. Ada sebagian para nelayan yang ahli tentang ikan menyebutkan bahwa di laut ada ikan yang kepalanya seperti kepala wanita dan dia memiliki wajah seperti wajah wanita. Apakah boleh dimakan, dan mereka menamainya dengan “Huuriyah” (peri laut)?

Beliau -hafidzahullah- menjawab:

فيه إنسان البحر فيه شيء من السمك على شكل إنسان يسمونه إنسان البحر يؤكل كل صيد البحر يؤكل ولو كان على شكل رجل أو شكل إمرأة نعم

“Ada namanya manusia laut. Ada ikan yang memiliki bentuk seperti manusia yang mereka namai dengan manusia laut. Setiap hewan laut yang diburu, maka boleh dimakan walau dia berbentuk seorang lelaki atau wanita. Na’am.” 

Syaikh Ibnu Utsaimin, Beliaupun juga pernah ditanya tentang manusia laut ini dan beliau berfatwa akan bolehnya memakan hewan laut ini dengan berdalil dari hadits Nabi bahwa laut itu suci dan halal makhluk didalamnya.

Sampai sekarang wujud putri duyung belum bisa dapat dibuktikan secara ilmiah, terlepas dari banyaknya foto dan video yang bereda di internet. Pada tahun 2012, National Ocean Service Amerika Serikat menyatakan bahwa bukti keberadaan putri duyung tidak pernah ditemukan.

Nah, itu dia pandangan ulama tentang putri duyung. Sekali lagi tulisan ini tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa putri duyung itu ada atau tidak. semua terserah pada anda baik mau percaya maupun tidak.

Serta juga jangan terlalu terobsesi jika putri duyung itu cantik seperti di filem-filem dan sebagainya. Walaupun mereka diceritakan memiliki rupa seperti wanita bukan berarti mereka persis seperti manusia, bahkan Kolombus yang mengaku pernah melihat putri duyungpun kecewa karena putri duyung yang ia lihat tidak secantik seperti yang diceritakan dalam mitos-mitos, bahkan ada yang berpendapat bahwa itu hewan sapi laut, atau mantee ataupun dugong.

Terimakasih kepada ustadz Abdurrahman Al-Amiry atas penjelasannya dalam web alamiry.net.


1 comment:

Powered by Blogger.