Bukti Tak Terbantahkan; Nubuwat Nabi Muhammad Dalam Yesaya 42 (Perjanjian Lama)

Wednesday, November 29, 2017

Mengenai nubuwatan Nabi Muhammad SAW didalam Taurat dan Injil kita sendiri sudah pernah membahasnya. Tepatnya lima tahun yang lalu saya sempat menulis juga nubuwatan Nabi Muhammad pada kata מחמדים dalam Kidung Agung ayat 16 pada Taurat. Pada bagian Injil juga disebutkan pada Injil Barnabas.


Walaupun sudah diterangkan tetap saja ada alasan dari mereka untuk menapisnya. Saya sadari memang itu hak mereka untuk menjawab, setidaknya kewajiban saya untuk menyampaikan. Ini juga sebagaimana disebutkan dalam surat As-Shaf ayat 6 bahwa memang Nabi Muhammad SAW telah dinubuwatkan dalam Taurat dan Injil.

Untuk memperingati kelahiran Rasulullah ditahun 2017 ini, sepertinya ini menjadi postingan spesial dari zulfanafdhilla.com. Setidaknya ini dapat menambah wawasan, keimanan dan hujjah kita.

Mengenai nubuwatan yang akan kita bahas ini berkaitan erat dengan informasi surat Al-Baqarah ayat 146, berbunyi:

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al Baqarah :146)

Ayat ini menerangkan bagaimana sebenarnya orang-orang Yahudi baik Nasrani bahwa sebenarnya mereka lebih faham dan mengenal tentang nubuwatan Nabi Muhammad. Itu karena sang Rasul memang benar-benar diramalkan dalam kitab mereka. Itulah sebab nantinya kenapa banyak orang-orang Yahudi menetap di Madinah dan menyambut kedatangan Rasulullah dengan penuh gembira. Oleh karenanya pastikan anda membaca tulisan ini hingga akhir agar apa yang disampaikan difahami.

Berangkat dari Al-Baqarah ayat 146, kita akan mengkaji salah satu kitab dalam Bible yaitu Yesaya 42. Sebelumnya saya terangkan dahulu bahwa dalam Bible terbagi kepada dua bagian, yaitu perjanjian lama dan perjanjian baru. Bagi orang Yahudi mereka hanya mengakui perjanjian lama saja yakni Taurat dan mengabaikan perjanjian baru yakni Injil. Sedangkan bagi Kristiani mereka mengakui keduanya.

Yesaya sendiri merupakan bagian dari kitab perjanjial lama (Taurat) yang termasuk kedalam golongan Nevi'im (para Nabi). Yesaya sendiri merupakan salah seorang Nabi yang diutus kepada Bani Israil.

Namanya Yesaya/Isaiah bin Amosh atau Sya'ya bin Amshaya, merupakan salah seorang dari Nabi-Nabi kecil kaum Bani Isra'il. Dalam kitab Qashashul Ambiya, Ibnu Kathir menjelaskan dari Muhammad Ibn Ishaq bahwa Sya'ya bin Amshaya hidup sebelum diutusnya Nabi Zakariya dan Yahya. Beliau adalah orang yang menyampaikan kabar gembira akan kedatangan Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Menurut riwayat dari Ishaq bin Basyar dari Idris bin Sinan dari Wahab bahwa Nabi Sya'ya meninggal digergaji oleh Yahudi.

Kitab yang ditulis oleh Nabi Yesaya inilah kemudian menubuwatkan akan datangnya Nabi Muhammad seperti yang diberitakan oleh Ibn Ishaq. Namun pemeluk Kristen menolak untuk menerimanya dan mengatakan bahwa Kitab Yesaya pasal 42 yang akan kita bahas ini adalah nubuwat kepada Isa (Yesus) bukan kepada Nabi Muhammad.

Untuk membuktikannya mari kita kaji Yesaya pasal 42. Pada pasal 42 ini secara jelas mengabaran akan nubuwat seorang Nabi kepada bangsa Arab, spesifiknya adalah Nabi Muhammad SAW. 

Pada ayat 1, menjelaskan akan hadirnya seorang utusan istimewa yang berbunyi:
“Here is my servant, whom I uphold, my chosen one in whom I delight ...." (Yesaya 42: 1 - biblegateway.com)
Artinya: "Inilah hamba-Ku yang Kudukung, orang pilihan-Ku yang menyenangkan hati-Ku." (Yesaya 42: 1 - biblehub.com)

Dia menggambarkan sosok yang dinubuwatkan ini dengan sebutan servant, chosen one dan  whom i delight. Kitab Yesaya ini ditulis dalam bahasa Ibrani, dan bahasa Ibrani dekat dengan bahasa Arab karena sama-sama rumpun semitik. Servant dalam bahasa Ibrani adalah Ebed yang dekat dengan bahasa Arab yaitu Abd yang berarti hamba. Dan Nabi Muhammad sendiri dikenal sebagai Abdullah yaitu hamba Allah. Chosen one dalam bahasa Arab disebut Musthafa dan whom i delight dalam bahasa Arab disebut Habibullah memiliki arti yang disenangi/dicintai Allah. Dimana Musthafa dan Habibullah adalah 2 nama lain dari Nabi Muhammad.

Bukti bahwa dalam Yesaya ini merupakan ramalan utusan terakhir terdapat dalam ayat ke 9.
Sekarang yang Kuramalkan sudah menjadi kenyataan; Aku mau memberitahukan hal-hal yang baru; sebelum itu terjadi, sudah Kukatakan kepadamu. (Yesaya 42: 9 - biblehub.com)

Lokasi Sang Utusan

Jika mungkin penjelasan ayat 1 terlihat agak sedikit memaksakan, kita coba lompat beberapa ayat yang terlihat lebih objektif yaitu ayat 11. Dalam Yesaya 42 ini juga dijelaskan mengenai lokasi Nabi yang akan diutus dan dinubuwatkan. Hal ini terdapat dalam Yesaya 42: 11.
"Let the wilderness and its towns raise their voices; let the settlements where Kedar lives rejoice. Let the people of Sela sing for joy; let them shout from the mountaintops." (Yesaya 42: 11 - biblegateway.com)
Artinya: "Hendaklah padang gurun dan kota-kotanya memuji TUHAN, baiklah penduduk Kedar memuji Dia! Hendaklah penduduk kota Sela bersorak-sorai, dan berseru-seru dari puncak gunung!" (Yesaya 42: 11 - biblehub.com)

Ada dua kata kunci yang muncul dari ayat 11 ini yaitu Kedar dan Sela yang kedua kata ini menjadi point lokasi dari diutusnya Nabi yang dinubuwatkan itu, maka itu kita akan memberikan perhatian spesial kepada dua kata kunci ini.

Siapa itu penduduk Kedar? Kedar atau Qedar atau Qaidzar merupakan salah satu anak Nabi Ismail. Kedar juga nama suku bangsa nomadik kuno, suku Kedar dan kerajaan kuno (Kingdom of Qedar) yang tinggal di wilayah Jazirah Arab, dan termasuk ke dalam konfederasi suku-suku Semitik Arab. Pada puncak kejayaannya digambarkan sebagai "suku Arab Utara kuno yang paling terorganisir", pada abad ke-6 SM menguasai daerah luas antara Teluk Persia dan Semenanjung Sinai.

Menurut tradisi Alkitab suku Kedar adalah keturunan dari Kedar, putra kedua Ismael bin Abraham, yang dicatat dalam Kitab Kejadian dan Kitab 1 Tawarikh, serta di bagian lain ada pula beberapa rujukan tentang "Kedar" sebagai suatu suku. Contohnya seperti yang disebutkan dalam Yehezkiel 27:21 yang berbunyi.

"Arab dan semua pemuka Kedar berdagang dengan engkau dalam anak domba, domba jantan dan kambing jantan; dalam hal-hal itulah mereka berdagang dengan engkau." (Yehezkiel 27:21 - Alkitab.sabda.org)

Menurut Umar bin Abdul Aziz bahwa bangsa Arab Hijaz seluruh nasabnya kembali pada kedua anaknya Nabit dan Qaidzar (Kedar). Dalam Kitab Qashashul Ambiya Ibn Katsir menjelaskan bahwa Kedar merupakan anak Nabi Ismail dengan istri ketiganya yaitu Sayyidah.

Pada tahap ini kita dapat fahami bahwa yang dimaksud dengan Penduduk Kedar adalah penduduk Jazirah Arab keturunan Kedar yang kemudian darinya (Nabit dan Kedar) lahirlah bangsa Arab Hijaz dan Quraisy yang menjadi moyangnya Nabi Muhammad.

Lalu siapa penduduk Sela? pada ayat ini disebutkan "Hendaklah penduduk kota Sela bersorak-sorai, dan berseru-seru dari puncak gunung", lalu siapakah penduduk Sela yang bersorak-sorai dari puncak gunung?

Sela sendiri merupakan nama gunung yang terletak di Saudi Arabia yang dikenal dengan gunung Sila'. Seorang pakar sejarah dan gerografi, Al-Hamdani yang hidup pada 150 tahun selepas kewafatan Rasul menyebutkan dalam bukunya "Shifatu Jaziratu Arab" bahwa Gunung Sela adalah bagian dari kota Madinah.

Dengan begitu dapat difahami bahwa Kedar merupakan penduduk bangsa Arab (Saudi Arabi) sedangkan Sela merupakan pendudukdari gunung Sela yang dalam hal ini merupakan bagian dari kota Madinah. Dengan kata lain, penduduk Sela adalah penduduk kota Madinah.


Ngomong-Ngomong soal penduduk kota Madinah, menurut sejarah Islam yang sering kita pelajari di sekolah bahwa di kota Madinah juga dihuni oleh penduduk Yahudi sebelum kerasulan Nabi Muhammad, Mereka terbagi kepada tiga klan yaitu Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqa'. Pertanyaanya, kenapa ada penduduk Yahudi di Madinah? kenapa tidak ada di Makkah, padahal Makkah pusat perdagangan masa itu.

Sebab menetapnya kaum Yahudi di Madinah diterangkan dalam Fushul min Tarikh Madinah halaman 18, menurut keterangan Ibnul Mundzir adalah,

"Bahwa ketika Nabi Musa ‘alaihi salam melaksakan haji, ada beberapa orang di kalangan Bani Israil yang juga turut berhaji. Ketika pulang mereka mampir Madinah. Mereka perhatian, dan mereka jumpai karakter kota nabi seperti yang diceritakan dalam taurat, yang merupakan nabi terakhir. Hingga sebagian diantara mereka singgah di Pasar Qainuqa." 

menurut satu riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

"Bahwa ketika Bukhtanshar berkuasa, dan membantai Yahudi, banyak di kalangan Yahudi yang menyebar ke berbagai daerah. Mereka jumpai Muhammad telah dinyatakan dalam kitab mereka, dan beliau akan muncul di salah satu daerah di arab, yang wilayahnya banyak pohon kurmanya. Ketika mereka keluar dari Syam, mereka melewati semua daerah antara Syam hingga Yaman. Mereka mencari kota yang kriterianya seperti kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga mereka berhasil menemukannya. Lalu sebagian diantara mereka – bani Harun – ada yang singgah di Yatsrib."

Dalam ar-Rahiq al-Makhtum diterangkan tentang asal yahudi di Madinah,

“Aslinya mereka adalah ibrani, namun setelah mereka pindah ke daerah Hijaz (wilayah Madinah – Mekah), mereka melebur dengan kultur arab, mulai dari cara berpakaian, bahasa, sampai tradisi dan kebudayaan. Hingga nama mereka dan nama kabilah mereka kearab-araban. Sampai terjadi hubungan pernikahan antara yahudi dengan masyarakat arab. Hanya saja, mereka masih menjaga fanatisme kebangsaan, dan tidak berasimilasi penuh dengan masyarakat arab. Bahkan mereka membanggakan diri mereka sebagai keturunan Israil” (ar-Rahiq al-Makhtum, 139).

Sebab bermukkimnya kaum Yahudi di Madinah jauh sebelum lahirnya Rasulullah adalah karena pembelajaran Taurat oleh mereka dan menyakini bahwa kota ini adalah negeri yang dinubuwatkan dalam Taurat.

Lalu apa yang dimaksud "Hendaklah penduduk kota Sela bersorak-sorai, dan berseru-seru dari puncak gunung". Sudah pasti peristiwa kegembiraan ini terjadi di kota Madinah yang kita kenal dengan peristiwa penyambutan Rasul saat tibanya di kota Madinah. Kehadiran Rasul disambut dengan suka ria oleh penduduk Madinah, termasuk pemeluk Yahudi. Beliau disambut dengan syair Tala-'al badru alayna, min tsaniyati wada'i. Yahudi menyambut Rasul dengan antusias juga karena bunyi dari Yesaya 42 ayat 11 ini "Hendaklah penduduk kota Sela bersorak-sorai, dan berseru-seru dari puncak gunung".


Yang Dibawa Sang Utusan

Dalam Yesaya ini pula menginformasikan bahwa sosok spesial ini akan membawa sesuatu yang baru. Disebutkan dalam Yesaya 42: 10,
"Sing to the Lord a new song, his praise from the ends of the earth," (Yesaya 42: 10 - biblegateway.com)
Artinya: "Nyanyikanlah lagu baru bagi TUHAN, pujilah Dia, hai seluruh bumi! Bergemuruhlah, hai laut dan semua isinya, negeri-negeri yang jauh dan semua penduduknya!" (Yesaya 42: 10 - biblehub.com)

Statement kata a new song atau lagu baru bermakna hukum baru/syari'at baru atau cara ibadah yang baru. Ini sangat cocok merepresentasikan kepada Islam. "Pujilah Dia, hai seluruh bumi!" ini serupa dengan ayat 2 surat Al-Fatihah yang berbunyi "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam" dan sekarang bumi tidak pernah berhenti mengumandangkan azan. 

Kata a new song atau lagu baru tidak cocok jika ditunjukkan kepada Isa/Yesus. Karena dia tidak membawa sesuatu yang baru/ syariat yang baru, dalam kitab Matius disebutkan,

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17 - Alkitab.sabda.org)

Yesus/Isa bahkan mematuhi dan mengikuti syari'atnya Nabi Musa dalam Taurat. Dia tidak pernah menyanyikan lagu baru, bahkan ia menyanyikan lagu yang sama seperti Musa yaitu Taurat.

"Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat." (Kisah Para Rasul 15: 21 - biblehub.com)

Kepada Siapa Ia Diutus

Dalam Yesaya 42 ini juga menekankan misi universal yang akan diemban oleh utusan spesial ini dengan menyebutnya dia akan,..
"... covenant for the people and a light for the Gentiles," (Yesaya 42: 6 - biblegateway.com)
Artinya: "...menjadi perjanjian bagi umat manusia, dan cahaya bagi semua bangsa (Gentile)." (Yesaya 42: 6 - biblehub.com)

Apa itu Gentiles? Gentiles atau Goyim (dalam bahasa Ibrani) adalah sebutan bagi orang-orang non-Yahudi. Dan Nabi Muhammad adalah satu-satunya Rasul yang diutus untuk semua bangsa (Gentile). Sebagaimana firman Allah,

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Hal ini juga tidak cocok untuk menubuwatkan Yesus/Isa, itu karena dalam Matius sudah dijelaskan bahwa Yesus/Isa hanya untuk bangsa Bani Israil,

"Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." (Matius 15: 24 - sabda.org)

Kondisi Umat Yang Diutus Kepadanya

Lebih lanjut dalam Yesaya lebih jauh lagi menyatakan,
"...mereka akan Kutuntun di jalan-jalan yang tidak mereka kenal..." (Yesaya 42: 16 - biblehub.com)
Kata jalan yang tidak mereka kenal sangat cocok jika dinisbatkan kepada bangsa Arab. Itu dikarenakan sebelum diutusnya Nabi Muhammad, bangsa Arab belum diutus Nabi apapun kepada mereka. Selaras sebagaimana yang dijelaskan dalam surat As-Sajadah ayat 3,

"...agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk." (As-Sajadah: 3)

Ini juga tidak cocok jika ditujukan kepada nubuwatan Yesus/Isa, karena umatnya yaitu bangsa Bani Israil sudah diutus banyak Nabi dan Rasul kepada mereka.

Pada ayat berikutnya dispesifik lagi bahwa utusan spesial ini kan diutus kepada penduduk yang menyembah berhala,
"Orang yang percaya kepada patung berhala dan mengakuinya sebagai ilah mereka..." (Yesaya 42: 17 - biblehub.com)
Sebagaimana kita ketahui sebelum datangnya Islam, orang-orang Arab menyembah berhala seperti Latta, Manat, Uzza dan Hubal dan menjadikannya sebagai ilah (tuhan). Dan lagi-lagi ini tidak cocok jika dinubuwatkan kepada Yesus/Isa yang diutus ditengah-tengan bangsa Yahudi. Karena bangsa Yahudi adalah monoteisme, mereka tidak menyembah berhala maupun patung. 

Terlebih lagi Yesus sendiri memerintahkan ke-12 muridnya agar tetap beriman seperti apa yang diimani orang Yahudi dan dilarang untuk menyelisihinya, Dalam Matius menjelaskan,

"Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain (yakni tetap dengan keyahudian).. " (Matius 10: 5 - sabda.org)

Deskripsi Sang Utusan

Yesaya juga menginformasikan bahwa utusan yang spesial ini merupakan seorang warior dan pejuang.
"...seperti seorang prajurit penuh semangat berperang. Ia mengangkat pekik pertempuran, dan menunjukkan keunggulan-Nya terhadap lawan." (Yesaya 42: 13 - biblehub.com)
Rasulullah SAW semasa hidupnya telah mengikuti sebanyak 27 peperangan. Namun dari 27 peperangan ini, hanya 9 saja yang terjadi pertempuran. Selebihnya, yaitu musuh menyerah damai. Sedangkan Yesus tidak sama sekalipun, bahkan menurut ajaran Kristen ia wafat disalib.

Dari bunyi Yesaya pasal 42 ini sudah pasti diyakini orang yang dimaksud adalah Nabi Muhammad dan bukan Nabi Isa/Yesus. Itu dikarenakan adanya beberapa hal pemberitaan Yesaya yang singkron kepada hal ihwal Rasul SAw bahkan kontradiktif dengan Yesus/Isa.

Beberapa hal yang membuat nubuwat Yesaya pasal 42 tidak cocok untuk ramalan Isa/Yesus adalah

Yesaya 42: 6 - sosok yang diramalkan untuk semua bangsa (Gentiles). Yesus hanya untuk bangsa Bani Israil (Matius 15: 24) sedangkan Muhammad diutus untuk semua bangsa (Saba' ayat 28).

Yesaya 42: 10 - sosok yang diramalkan akan membawa hukum syari'at baru (new song). Yesus sendiri tidak membawa hukum baru (Matius 5:17), Injil hadir bukan untuk membawa hukum baru tapi untuk menggenapinya. Sedangkan Nabi Muhammad datang dengan membawa syari'at baru dengan Al-Quran.

Yesaya 42: 11 - sosok yang diramalkan akan diutus kepada penduduk Kedar (Arab) dan disambut penduduk Sela (Madinah, Arab). Yesus sendiri diutus untuk bangsa Bani Israil.

Yesaya 42: 13 - sosok yang diramalkan didekripsikan sebagai seorang pejuang dalam peperangan. Nabi Muhammad sendiri telah mengikuti 27 peperangan dan 9 pertempuran, sedangkan Yesus tidak.

Yesaya 42: 16 - sosok yang diramalkan akan diutus ke negeri yang belum pernah diutus kepada mereka seorang Nabi-pun (yaitu negeri Arab). Sedangkan Yesus diutus ke bangsa Israil yang sudah banyak diutus Nabi pada mereka.

Yesaya 42: 17 - sosok yang diramalkan akan diutus ke negeri yang menyembah berhala (yakni bangsa Arab yang sesembahannya berhala -Latta, Manat, Uzza dan Hubal). Sedangkan bangsa Israil atau umat Yahudi yang diutus pada mereka Nabi Isa/Yesus adalah umat monoteisme yang tidak menyembah berhala.

Jika kita perhatikan dengan seksama, nubuwat dalam Yesaya 42 lebih cocok 100%  merujuk kepada nubuwat kerasulan Nabi Muhammad. Bahkan jika dikatakan ini nubuwat kepada Yesus maka akan didapati banyak kontradiksi.

Saya mengerti bagi anda umat Kristiani maupun Yahudi yang membaca ini pastinya ada yang setuju juga ada yang kontra. Diluar sana juga banyak postingan serupa yang mencoba menangkis realita dari Yesaya 42 ini. Selebihnya terserah kepada anda, postingan ini bukan bermaksud menyerang kelompok agama apapun melainkan hanya opini, prediksi dan analisa semata.

Bagi anda yang muslim, ini akan menjadi penguat dan menambah keimanan. Setidaknya juga menambah wawasan dan kita semakin yakin akan status kerasulan Nabi Muhammad SAW.

No comments:

Powered by Blogger.