Ragam Model Kopiah dan Peci Umat Muslim Dari Belahan Dunia

Saturday, November 11, 2017
Dapatkan: Game Flaguess

Uji wawasanmu seputar bendera negara yang ada didunia dengan game trivia ini

Download


Pakaian kepada (headwear, headgear, headdress) merupakan jenis pakaian yang dipakai atas kepala atau menutup kepala, jenis pakaian yang umumnya dipakai dibelahan dunia manapun. Penggunaan penutup kepala atau pakaian kepalapun dilatar belakangi oleh berbagai faktor seperti faktor budaya, geografi, iklim, agama dan berbagai kebutuhan lainnya seperti topi perang dan lain sebagainya.

Penutup kepala juga begitu indentik pada aturan agama. Mayoritas agama di dunia memiliki model penutup kepala yang menjadi ciri khas mereka. Dastaar atau Pagri yaitu serban yang dipakai oleh pemeluk Sikh, Kippa yang dipakai oleh pemeluk Yahudi dan peci yang dipakai oleh umat muslim merupakan penutup kepala yang menjadi identitas agama.

Baca Selengkapnya Kenapa Orang Yahudi Memanjangkan Jambangnya, Memakai Jas dan Topi Bundar (Fedora)?

Walaupun begitu dalam agama Islam penutup kepala tidak memiliki bentuk yang khusus. Penutup kepala ummat muslim sendiri dipengaruhi oleh faktor budaya (dalam ushul fiqh disebut Al-'Urf). Bahkan serban merupakan produk budaya Arab. Hanya saja karena Rasulullah SAW memakai serban maka ia menjadi sunnah. Artinya, serban dipakai dikarenakan sebab Rasul memakainya dan bentuk cinta padanya bukan menjadi aturan agama. Dalam ajaran Islam hanya mengatur agara memakai pakaian ketaqwaan, yaitu pakaian keimanan dan sopan santun serta menutup aurat (sesuai tuntunan syar'i).

Oleh karenanya model penutup kepala ummat muslim beragam pada setiap daerahnya sesuai kebudayaan yang berkembang. Di Indonesia sendiri populer dengan sebuah peci, kopiah maupun songkok. Meski ketiganya berfungsi sama sebagai penutup kepala, sejarahnya berbeda-beda. Peci misalnya,  dalam sejarah pada masa penjajahan Belanda disebut Petje. Yaitu, dari kata Pet yang diberi imbuhan je.

Sedangkan kopiah diadopsi dari bahasa Arab, kaffiyeh atau kufiya. Namun, wujud asli kaffiyeh berbeda dengan kopiah. Sementara, songkok dalam bahasa Inggis dikenal istilah skull cap atau batok kepala topi, sebutan oleh Inggris bagi penggunanya di Timur Tengah.

Di wilayah Indonesia atau Melayu yang pernah dijajah Inggris, kata tersebut mengalami metamorfosa pelafalan menjadi skol kep menjadi song kep dan sampai menjadi song kok. Kata songkok pernah populer di era kebangkitan nasional.

1. Songkok/Kopiah


Bagi masyarakat Indonesia maupun melayu, Songkok atau Kopiah menjadi pakaian khusus yang dipakai oleh lelaki Muslim.  Songkok sendiri bahkan pernah menjadi pakaian khas untuk melawan penjajah di Indonesia pada masa silam.

Sejarah mengenai asal-muasal songkok ini juga beragam versi. Ada yang berpendapat Laksmana Ceng Ho (Cheng Ho merupakan laksamana dari Cina yang beragama Muslim) yang membawa peci ke Indonesia. Peci berasal dari kata Pe (artinya delapan) dan Chi (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Dalam versi yang lain yang terdapat dalam "The Origin of the Songkok or Kopyah" karya Rozan Yuno ditulis songkok diperkenalkan pada pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban. Namun serban dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, sedangkan songkok dipakai oleh kaum biasa.

Ada versi yang lain bahwa kopyah sudah dikenal sejak zaman Sunan Giri. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia, menulis bahwa kopyah(peci) tampaknya sudah dikenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa.

Namun Songkok sendiri dikenal secara nasional ketika Soekarno mempopulerkannya. Di masa penjajahan, Ir Soekarno mengenakan peci sebagai simbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah.

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Pada masa itu pula kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa.

2. Fez/Tarbush


Peci jenis ini berasal dari Turki, di Turki topi Fez ini juga dikenal dengan nama ‘fezzi’ atau ‘phecy’ atau kalau lidah orang Indonesia menyebutnya dengan Peci. Dikenal puladengan sebutan Red Kufi, Takke, Sarik dan lain sebagainya. Di Mesir peci ini dililit dengan serban dan dikenal dengan nama Tarbush atau Imamah Azhari. Di Asia Selatan (India dan sekitarnya) disebut Romap Cap/Rumi Cap yang artinya Topi Romawi.

Jika dirunut ke belakang, topi Fez ini berasal dari budaya Yunani Kuno dan diteruskan oleh budaya Yunani Byzantium. Ketika Turki Ottoman mengalahkan Yunani Byzantium (Anatolia) maka Turki Ottoman mengadopsi budaya penggunaan topi fez ini terutama ketika pemerintahan Sultan Mahmud Khan II (1808-1839).

Pada tahun 1826, Sultan mahmud II mulai melakukan reformasi pada angkatan bersenjatanya. Modernisasi ini juga terdapat pada pakaian seragam militernya yang mengadopsi gaya Barat dan terdapat penambahan seragam di bagian kepala, yaitu topi fez yang dilengkapi dengan lilitan kain. Tahun 1829, Sultan memerintahkan para warga sipil untuk memakai fez tanpa lilitan, dan melarang penggunaan turban. Penggunaan fez ini pun mulai populer dan meluas di kalangan rakyat Turki.

Perlu diketahui bahwa topi fez atau tarbush ini tidak hanya dipakai oleh umat Muslim, tetapi juga penganut agama lain. Contohnya seperti penganut Druze yang menjadi pakaian khasnya atau oleh penganut kepercayaan Yahudi Samaritan. Bahkan pula juga oleh cabang kelompok rahasia Freemason yaitu Shriners.
Baca Selengkapnya Agama Druze & Agama Yahudi Samaritan

3. Karakul


Karakul (atau Qaraqul) adalah sebuah topi yang terbuat dari rambut domba Qaraqul atau seringkali dari rambut lembu foetus, sekilas mirip dengan songkok di Nusantara. Topi triangular tersebut merupakan bagian dari pakaian adat orang asli Kabul yang telah dikenakan oleh beberapa generasi pria di Afghanistan.

Rambut yang digunakan untuk membuatnya disebut sebagai Astrakhan, broadtail, qaraqulcha, atau lembu Persia.

Topi qaraqul biasanya dikenakan oleh pria di Asia Tengah dan Asia Selatan. Qaraqul dikenakan oleh mantan raja Afghanistan, Amanullah Khan pada 1919. Muhammad Ali Jinnah, sang pendiri negara Pakistan juga dipakai oleh kalangan ulama seperti Abu Ala Al-Maududi dan presiden Afghanistan Hamid Karzai.

Karakul, yang telah menjadi kekhasan bagi seluruh pria perkotaan berpendidikan sejak permulaan abad ke-20, telah menjadi mode di Afghanistan.

4. Pakol


Selain Karakul, peci dengan nama Pakol ini juga menjadi peci khasnya Afghanistan dan Pakistan khususnya bagi para mujahidin-mujahidin disana. Pakol (juga dieja Pakul atau Khapol, dari Khowar bahasa Chitral) adalah, topi laki-laki yang berbentuk bulat berlapis lunak , biasanya dari wol dan ditemukan dalam berbagai warna sederhana: coklat, hitam, abu-abu, atau gading.

Pakol berasal dari Chitral dan Gilgit daerah yang sekarang berada di Utara Pakistan. Populer diantara suku-suku Pashtun Utara pada awal abad kedua puluh sebagai pengganti sorban mereka yang besar dan rumit.

Ada dua tipe dasar Khapol: gaya Chitrali, yang penuh dijahitan, dan gaya Gilgiti yang dikenakan seperti topi rajut. Khapol Chitrali memiliki banyak variasi yang populer di Pakistan dan Afghanistan.

Pakol sering dijumpai di Afghanistan, Pakistan, dan di Uzbekistan serta Tajikistan. Di Pakistan, sangat populer di Provinsi North West Frontier dan Daerah Utara seperti Gilgit dan Hunza dan Chitral, juga di beberapa daerah Utara di Jammu dan Kashmir .

Peci ini mendapat perhatian di Barat pada 1980-an, terkenal sebagai seorang topi seorang Muslim , Pashtoon atau mujahidin. Pakul kemudian menjadi penututup kepala mujahidin Afghanistan yang berjuang melawan penjajahan Soviet(1979-1989).

Alasan kenapa pakul dipakai adalah sebagai penggati sorban, topi pakul tidak memiliki bagian pellindung depan seperti topi konvensional. Pada topi konvensional bagian depan topi akan bersinggungan dan menghalangi sujud ketika shalat, dengan pakul yang berfungsi sebagai pengganti sorban hal ini tidak terjadi lagi.

5. Papakha


Papakha adalah peci khas yang dipakai oleh ummat Muslim Chechen (Negara Chechnya) di daerah dataran Rusia. Peci ini ikonik karena salah seorang pejuang Muslim Syaikh Imam Shamil pernah memakainya dalam melawan Rusia.

Papakha juga dikenal sebagai topi astrakhan dalam bahasa Inggris, adalah topi wol yang dikenakan oleh pria di seluruh Kaukasus. Kata papakha sendiri berasal dari Turki. Bahan yang digunakan juga dipengaruhi oleh iklim dingin disana. Papakha sangat tinggi dan berat, membuat pemakainya tak bisa membungkukan kepala. Sepertinya, papakha memang sengaja dibuat agar penggunanya terus menegakan punggungnya.

Benda paling penting bagi bangsa Kazaki adalah shashka (pedang) dan papakha. Di Dagestan, ada tradisi menggunakan papakha untuk melamar seorang perempuan. Jika seorang lelaki ingin meminang seorang gadis namun terlalu takut melakukannya secara terbuka, ia bisa melemparkan papakha-nya ke jendela sang gadis. Jika perempuan yang dicintainya itu tak kunjung melemparkan kembali topi tersebut, artinya gadis itu menerima pinangan itu.

6. Kalpak


Kalpak, yang biasa disebut "Ak Kalpak" (Kalpak putih), adalah topi yang biasanya terbuat dari empat panel putih dengan pola tradisional dijahit menjadi hiasan. Kalpak ini dipakai oleh muslim laki-laki dari segala umur terutama di pedesaan Kyrgyzstan, dan merupakan simbol kebangsaan.

Walau terlihat agak aneh, tutup kepala ini juga merupakan barang praktis yang menjaga kepala tetap hangat di musim dingin dan melindungi dari panas di musim panas.

Topi ini menjadi sebuah identitas khusus bagi orang-orang Krygyzstan. Bahkanpun bagi orang-orang yang tinggal di Barak (salah satu kota Krygyzs yang berada di teritorial Uzbekistan) tetap memakai Kalpak. Namun saat berkumpul dengan orang-orang Uzbek mereka akan memakai Tubeteika (topi khas Muslim Uzbek).

Ada sebuah norma tradisi yang dipatuhi saat memakai Kalpak oleh orang-orang Krygyz:
  1. Tidak boleh membunuh saat memakai kalpak
  2. Kalpak tidak boleh diletakkan diatas tanah
  3. Kalpak diletakkan di sebelah kepala di malam hari, tidak boleh di kaki.

7. Tubeteika


Jika Kalpak identik dengan orang Kyrgyzstan, maka Tubeteika adalah khas bagi orang-orang Uzbekistan. Dari segi tampilan tubeteika hampir mirip dengan peci yang ada di Indonesia dengan hiasan khas budaya Uzbeknya. Nama "tubeteika" berasal dari kata Turki yang berarti "puncak, sebuah puncak". Bukan hanya tutup kepala orang-orang Uzbekistan. Tubeteika juga dipakai di Afganistan, Iran, Turki, Sinkiang, Tatar Povolzhie, dan Bashkir. Bentuk paling umum dari tubeteika Uzbek adalah tetrahedral dan sedikit berbentuk kerucut.

Tubeteika dipakai pria, wanita, anak-anak (untuk anak laki-laki, anak perempuan, dan bayi), dan pria tua. Tubeteika untuk anak-anak disebut kulokcha, kalpokcha, duppi, kulupush berbeda dalam variasi bahan dan warna.

Tubeteika berbeda dalam bentuk, pola, dan warnanya tergantung daerah tempat mereka dibuat. Sebagai contoh, duppies dari Chust memiliki pola "curam" dan tinggi; tubeteikas dari lembah Fergana memiliki pola polos; Varietas Samarkand dibedakan dengan metode bordir, corak dan warna unik; topi Bukhara yang disulam emas. Jadi, dalam tradisi, berbagai pola bordir pada tubeteikas telah berkembang selama berabad-abad.

8. Kofia


Kofia adalah topi silindris seperti songkok yang dikenakan oleh pria di Afrika Timur, terutama orang-orang Swahili. Kofia adalah kata Swahili yang berarti topi. Kofia dikenakan dengan dashiki, kemeja Afrika berwarna-warni yang disebut kemeja kitenge di beberapa wilayah di Afrika Timur. Di Uganda, kofia dipakai dengan kanzu pada acara-acara informal. Hal ini juga dipakai di Somalia, di mana ia dikenal sebagai "koofiyad".

Jomo Kenyatta, Presiden Kenya yang pertama, sering difoto mengenakan kofia. Kofia populer di Mayotte. Kofia tradisional memiliki lubang pin kecil di kain yang memungkinkan udara masuk. Di Afrika Barat, topi ini disebut kufi.

9. Peci Shindi


Peci Sindhi juga dikenal sebagai peci Sindhi dan peci Saraiki adalah peci yang dipakai sebagian besar orang-orang Sindhi di provinsi Sindh di Pakistan; Namun peci ini juga telah diadopsi oleh orang-orang Saraiki dan orang Baloch termasuk orang-orang Pashtun. Peci Sindhi dianggap sebagai bagian penting budaya Sindhi dan budaya Saraiki. Ini juga merupakan simbol nasionalisme Sindhi selama ratusan tahun. Dalam budaya Sindhi, peci Sindhi sering diberikan sebagai hadiah atau sebagai tanda hormat, bersama dengan Ajrak.

Bentuk peci dengan potongan tengah membentuk gapura masjid adalah ciri khas dari peci ini. Peci ini banyak diproduksi terutama di Tharparkar, Umerkot, Sanghar, Kandhkot, Larkana, Nawabshah dan beberapa distrik lain di Sindh.

10. Peci Haji

Peci dengan mayoritas warna putih ini sering disebut dengan peci haji. Hal ini dikarenakan  peci ini sering dibawa pulang oleh jamaah haji. Sehingga ada suatu anggapan bahwa siapa yang memakai peci putih maka sudah haji dan dipanggil pak haji. Namun sekarang anggapan seperti ini sudah tidak ada lagi. Peci putih sering digunakan oleh santri pesantren. Tidak diketahui bagaimana sejarah dan apa nama khusus dari jenis peci ini walaupun ada yang menyebutnya sebagai peci Hadramaut.

No comments:

Powered by Blogger.