Bukan Bahasa Arab! Inilah Bahasa Pertama Didunia Yang Digunakan Nabi Adam

Saturday, November 04, 2017
Dapatkan: Game Flaguess

Uji wawasanmu seputar bendera negara yang ada didunia dengan game trivia ini

Download


Berbeda dengan pengikut Darwin yang merupakan keturunan kera. Kita adalah orang-orang yang murni beketurunan manusia, yaitu dari Adam. Atau dengan kata lain saya menyebutnya bahwa, manusia adalah makhluk surga yang turun kebumi.

Adam sendiri adalah manusia pertama dibumi sebagai orang yang pertama kali membangun peradaban di dunia bersama istrinya Hawa. Dari merekalah kemudian lahir Habil, Qabil, Syits dan seterusnya hingga Nabi Nuh. Jarak Nabi Nuh dengan Nabi adam berkisar sepuluh generasi.

Pada masa Nuh kemudian populasi manusia mengalami "perampingan" sehingga diyakini bahwa ummat manusia sekarang merupakan keturunan dari Nabi Nuh alaihissalam. Beliau memiliki empat orang anak laki-laki. Satunya tenggelam dalam banjir yang bernama Kan'an, dan ketiga lainnya selamat yakni Sam, Yafits, dan Ham.

Dari ketiga anak lelaki inilah kemudian lahir ras-ras yang ada didunia. Bukti bahwa nenek moyang manusia sekarang adalah para putra nabi Nuh juga tersirat pada tafsir Alquran dalam surah as-Shaffat ayat 77, “Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” Hal ini ditegaskan lagi dengan Firman Allah pada surah al-Isra ayat 3: “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh.” Kira-kira kita sebagai orang Indonesia termasuk keturunan manakah dari ketiga anak putra Nabi Nuh kah?

Baca selengkapnya: Ternyata Ras dan Bangsa Didunia Berasal Dari Keturunan 3 Putra Nabi Nuh Ini

Namun yang menjadi rasa penasaran saya dan juga topik yang akan kita bahas kali ini adalah bahasa pertama kali yang digunakan di bumi.

Kita beranggapan bahwa Nabi Adam dan Hawa adalah penduduk langit atau surga. Sebagaimana bunyi hadits bahwa penduduk surga berbahasa Arab, apa mungkin Nabi Adam dan Hawa juga berbahasa Arab ketika di bumi?.

Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, yang menyatakan,

“Cintailah arab karena 3 hal, (1) karena saya orang arab, (2) karena al-Quran berbahasa arab, dan (3) bahasa penduduk surga adalah bahasa arab.” (HR. Thabrani, Hakim dan Baihaqi)

Namun permasalahannya adalah, dalam sanadnya terdapat perawi bernama al-Alla bin Amr, yang oleh ad-Dzahabi dinilai matruk. Dan beliau menyebut hadis ini sebagai hadis palsu. Kemudian Abu Hatim menilainya pendusta.

Dalam al-Iqtidha, ketika membahasa hadis ini, Ibn Taimiyyah menyatakan, “Ibnul Jauzi mencantumkan hadis ini dalam kitab al-Maudhu’at (daftar hadis palsu). Beliau menyebutkan bahwa at-Tsa’labi menilainya, ‘La ashla lahu’ (tidak ada sumbernya). Sementara Ibnu Hibban menyebutkan bahwa Yahya bin Zaid (salah satu perawi hadis ini) meriwayatkan dari perawi yang tsiqqah kebalik-balik. Sehingga tidak bisa jadi dalil. (Iqtidha as-Shirat al-Mustaqim, 1/443)

Selanjutnya dalam Majmu' Fatawa beliau menjelaskan bahwa tidak ada yang mengetahu penduduk langit berkomunikasi dengan bahasa apa serta juga pada hari kiamat maupun penduduk surga dan neraka. Tidak ada riwayat shahih bahwa bahasa arab adalah bahasa penduduk surga. Dan kita juga tidak tahu adanya diskusi para sahabat Radhiyallahu ‘anhum tentang masalah ini. Bahkan mereka semua tidak memberikan komentar tentng bahasa kelak di akhirat. Karena membahas masalah ini termasuk pembahasan sia-sia.

Lalu bahasa apakah yang digunakan oleh Nabi Adam yang menjadi bahasa pertama kali di dunia? ada sebuah hadits yang menjelaskan;

يَا أَبَا ذَرٍّ أَرْبَعَةٌ سُرْيَانِيُّونَ آدَمُ وَشِيثُ وَأَخْنُوخُ وَهُوَ إِدْرِيسُ وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ خَطَّ بِالْقَلَمِ وَنُوح

Wahai Abu Dzar, ada 4 Nabi yang berasal dari bangsa Suryani, yakni Adam, Syits; Akhnukh; yakni Idris, yaitu orang yang pertama kali menulis dengan pena; dan Nuh. (Shahih Ibnu Hibban no 361)

Dari hadits diatas dapat difahami bahwa Nabi Adam berbahasa bangsa Suryani, dang bangsa Suryani berbahas Suryani. Ini dapat dilihat dari nama-mana anak Nabi Adam yang menggunakan bahasa Suryani. Seperti Syits dalam bahasa Suryani Syets, Nabi Idris yang dalam bahasa Suryani bernama Akhnukh serta Nabi Nuh.


Hal ini juga disebutkan oleh Al-Mas'udi dalam Tarikh Akhbar Zaman bahwa bahasa Nabi Adam ketika turun kebumi adalah bahasa Suryani. Namun apa itu bahasa Suryani?.

Bahasa Suryani merupakan bahasa yang digunakan oleh bangsa Suryani. Bangsa Suryani identik dengan Dinasti Surya, yakni sebuah nisbat kepada Kerajaan-kerajaan kuno yang berpusat di Mesopotamia yang meliputi Sumeria, Akkadia, Asyiria, Babilonia. Hal ini dikarenakan pusat peradaban manusia awal berada di sana. Selanjutnya dari sana (mesopotamia) manusia menyebar ke berbagai penjuru dunia membentuk peradaban-peradaban yang baru.

Di Mesir mereka membentuk Kerajaan Firaun, di mana kebanyakan yang menjadi raja mereka adalah keturunan Qibti bin Misraim bin Ham bin Nuh as. Di India mereka membentuk kerajaan-kerajaan Kuno di India, di mana kebanyakan yang menjadi raja mereka adalah keturunan Hind bin Kush bin Ham bin Nuh. Begitu pula dengan wilayah lainnya.

Menurut Syekh Ahmad Muhammad Ali al-Jamal dalam sebuah tulisannya yange berjudul al-Qur’an wa Lughat al-Suryaniyyah yang diterbitkan di Majalah Universitas al-Azhar tahun 2007 menjelaskan, bahwa Bahasa Suryani adalah bahasa yang diketahui sebagai bahasa Bangsa Aram dan digunakan hingga pada masa Masehi. Bangsa Aram sendiri adalah keturunan Aram bin Saam bin Nuh as. Dan bangsa ini juga menempati suatu negeri yang di dalam Taurat di sebut Negeri Aram. Negeri ini kini diketahui dahulun meliputi daerah Syam dan Irak.

Bahasa Suryani digunakan luas di Negeri Aram dan kemudian menyebar ke negeri-negeri sekitar seperti Asia Kecil dan Armenia, kemudian bahasa ini juga sampai ke negeri China dan India. Bahkan (bangsa) Yahudi pun pernah lebih mengutamakan pemakaian bahasa ini dari pada bahasa Ibrani mereka, dengan bahasa Suryani ini mereka bercakap-cakap dan menulis sebagian kitab-kitab suci. Bahkan konon al-Masih sendiri berbicara dengan bahasa ini kepada murid-muridnya. (Lihat : Samir Abduh , al-Suryan Qodiman wa Haditsan hlm.25)

Pemeluk agama Sabi'in atau Sabean Mandean juga masih menggunakan tulisan aram ini dalam kitab suci mereka yaitu Kinza Rabba.

Selengkapnya Baca: Agama Shabi'ah (Sabean Madean/Sabi'in Mandiyun)

Untuk sekarang bahasa Suryani dikenal dengan bahasa mati karena tidak ada satu daerah pun yang menggunakannya secara aktif untuk berkomunikasi. Adapun bahasa Suryani Nabi Adam dengan sekarang berbeda, Nabi Adam berbicara dengan bahasa suryani Kuno.

Bahasa Suryani Purba lama-lama menjadi Bahasa Mesopotamia. Bahasa Mesopotamia membentuk bahasa Semitik, Yafetik dan Hamitik. Bahasa Semitik bercabang menjadi Suryani dan Aramaic. Dari Aramaic inilah bahasa Arab dan Ibrani muncul. Begitu pula dengan bahasa lainnya. Bahasa tersebut terbentuk karena adanya sebuah peradaban dalam sebuah masyarakat. Tiap kelompok masyarakat memiliki bahasa dan dialek yang berbeda-beda. Meskipun demikian kita bisa melacak bahwa semua bahasa yang ada di dunia ini saling berkaitan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Karena bahasa Suryani sangat dekat dengan bahasa Arab, saking identiknya, banyak yang beranggapan bahasa Suryani adalah bahasa Arab dialek orang-orang Suriah. Bahasa Suryani bukanlah bahasa resmi di negara Suriah (bahasa resmi Suriah adalah bahasa Arab), melainkan bahasa yang saat ini dituturkan oleh kaum minoritas Kristen Siria yang tinggal di sebelah timur Turki, sebelah utara Irak dan sebelah timur laut Suriah.

Adapun bahasa Arab baru digunakan sekitar masa Hud bin Abdullah bin Rabah bin Khulud bin Ad bin Aus bin Iram bin Sam bin Nuh, sebagaimana sabda Nabi saw:

وَأَرْبَعَةٌ مِنَ الْعَرَبِ: هُودٌ، وَشُعَيْبٌ، وَصَالِحٌ، وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Dan empat orang Nabi yang berasal dari Arab, yakni Hud, Syuaib, Shalih dan Nabimu Muhammad saw. (Shahih Ibnu Hibban no 361)

Bahasa Suryani juga merupakan bahasa liturgi dari beberapa gereja Suriah/Siria: Gereja Ortodoks Suriah, Gereja Katolik Suriah, Gereja Maronit, Gereja Katolik Khaldea, Gereja Timur Asiria dan Gereja Tua Timur.

Walaupun termasuk bahasa yang sudah mati, bukan berarti bahasa ini benar-benar punah. Hal ini sebagaimana hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah memerintahkan sahabat Zaid bin Tsabit Ra. untuk mempelajari Bahasa Suryani.

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

Dari Zaid bin Tsabit berkata : Rasulullah Saw. memerintahkanku agar saya mempelajari Bahasa Suryani. (HR. Tirmidzi)

Bahasa Suryani ini juga merupakan bagian dari kosa-kata yang terkandung dalam Al-Quran.

Imam al-Thobari dalam Tafsirnya Jami’ al-Bayan li Ta’wil al-Qur’an, terhadap surat Maryam ayat 24. Beliau mengutip pendapat Imam Mujahid yang mengatakan bahwa lafadz Sariyya pada ayat tersebut adalah bahasa Suryani yang berarti Sungai. Pendapat ini senada dengan Imam al-Dhohhak yang menyatakan Sariyya adalah Bahasa Suryani yang bermakna Jadwal Shogir (anak sungai yang kecil).

Syekh Ahmad Muhammad Ali al-Jamal dalam tulisannya di Majalah Universitas al-Azhar berjudul al-Quran wa Lughatu al-Suryaniyyah memberikan contoh-contoh lafadz dalam al-Qura’an yang konon diambil dari Bahasa Suryani. Misalnya beliau menjelaskan panjang lebar tentang lafadz Maryam dalam al-Qur’an, menurutnya lafadz yang merujuk Ibu dari baginda Nabi Isa as, ini berasal dari bahasa bagsa Aram (Suryani), yaitu dari kata Maray/Mari yang berarti ar-Rabb (tuhan) dan Ama yang bermakna al-Umma (ibu) yang kemudian di-arab-kan menjadi Maryam.

Hal-hal seperti ini seringkali menjadi pertanyaan ketika masuk dalam ilmu tafsir lebih dalam. Misalnya dua lafadz “Ilyas” pada surat al-Shaffat ayat 123 dan lafadz “Ilyasiin” pada ayat 130 sering menimbulkan pertanyaan, mengapa lafadz “ílyas” yang menggunakan bentuk mufrod (tunggal) sedangkan pada ayat selanjutnya menggunakan lafadz “ilyasiin” yang terkesan menggunakan bentuk jama’ (plural). Apakah Nabi Ilyas as. itu ada banyak sehingga al-Qur’an menggunakan bentuk plural pada ayat 130 ini?.

Jawabnya tentu saja tidak, menurut Imam az-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kassyaaf, penambahan huruf ya dan nun dalam lafadz Ilyasiin adalah bahasa Suryani yang bermakna plural dan mengarah kepada kaumnya. Sehingga lafadz ilyaasiin bukanlah mengarah kepada Nabi Ilyas secara individu, tapi kepada man aaman bihi min qoumihi (orang-orang dari kaum Ilyas yang beriman).

Syekh Abu al-Qosim al-Asfahani dalam kitabnya menjelaskan nama-nama malaikat yang kita kenal ternyata berasal dari bahasa Suryani. Misalnya. Beliau menukil perkataan Sahabat Ibnu Abbas Ra. bahwa kata “Jibril” berasal dari Bahasa Suryani, kata Jibr berarti Hamba, dan Ail berarti Allah. (Lihat Mufrodat alfadz al-Quran, I, hlm.58).

Dr. Muhammad bin A.W Al-'Aql dalam bukunya Manhaj 'Aqidah Imam Asy-Syafi'i halaman 449 menyebutkan. Allah Ta'ala berbicara dengan bahasa-bahasa, Taurat dengan bahasa 'Ibrani, Al-Quran dengan bahasa Arab dan Injil dengan bahasa Suryani. Walaupun dalam hal ini masih terjadi perdebatan.

Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayim berpendapat bahwa Isa alaihissalam tidak berbicara kecuali dalam bahasa Ibrani. Ibnu Taimiah berkata dalam kitab “Al-Jawab Ash-Shahih, 3/75, “Isa Al-Masih adalah seorang Ibrani, dia tidak berbicara selain bahasa Ibrani.”

Dia juga berkata (1/90), “Siapa yang berkata bahwa bahasa Isa Al-Masih adalah Suryani (atau Romawi), maka dia telah keliru”.

Tidak hanya sebagai alat komunikasi dan kosa-kata Quran, bahasa Suryani ini juga menjadi bahasa yang digunakan dalam dunia mistis dan sufistik.

Dalam portal pribadinya Cak Gopar menejlaskan,  Selain digunakan sebagai mantra, kata-kata Bahasa Suryani juga seringkali digunakan sebagai semacam azimat dan ditulis dalam huruf Arab. Misalnya, lafadz Kabikaj, dulu sewaktu masih mengaji di pesantren -ujarnya, seringkali kitab-kitab kuning oleh santri pemiliknya ditulis dengan kata tersebut dengan huruf arab menjadi : كبيكج   (baca : Kabikaj).

Cover kitab kedokteran Syarh Thobi'ah al-Insan dengan cover terulis
lafadz : Ihfadz Hadzal Kitab Ya Kabikaj (Jagalah kitab ini wahai Kabikaj)
Mitos yang berkembang, sebuah kitab yang di cover depan atau belakangnya ditulis dengan lafadz kabikaj tadi, maka tidak akan ada serangga yang mampu merusaknya. Sehingga kitab tersebut akan awet.

Dan nampaknya kepercayaan ini bukan omong kosong, karena pada banyak manuskrip kitab-kitab kuno seringkali ditemukan lafadz kabikaj ini.

Setelah diselidiki, terjadi transfer kesalahpahaman kepada santri-santri yang rajin nulis lafadz Kabikaj di cover kitab kuningnya itu. Kabikaj adalah sejenis tumbuhan dalam Bahasa Suryani. Tumbuhan Kabikaj ini sangat tidak disukai oleh serangga. Oleh sebab itu, orang-orang dahulu ketika menulis kitab maka di bagian covernya seringkali ditulis lafadz Kabikaj ini dengan tinta yang dibuat dari tumbuhan Kabikaj dengan harapan kitab yang ditulisnya terhindar dari serangga yang akan merusak.

Bahasa Suryani juga mewarnai khazanah dalam dunia Tasawwuf atau Sufisme. Selenjutnya Cak Gopar menjelaskan, bahkan bahasa ini juga sering digunakan pada dunia tasawuf oleh kelompok-kelompok mistis tertentu. Contoh kalimatnya : bi ajin ahujin jalajalyu tu jaljalat dibaca dengan ritme dan cara tertentu.

Syekh Abdul Jalil atau yang biasa disebut Datuk Sanggul, seorang ulama Tasawuf pada abad ke 18 di Banjar, Kalimantan. Pada sebuah puisinya Saraba Ampat (Serba Empat) bait ke empat beliau sedikit menyinggung tentang bahasa ini.
Jabar Ail asal katanya
Bahasa Suryani asal mulanya
Kebesaran Alloh itu artinya
Jalalulloh bahasa Arabnya

Pada puisi tersebut, Datuk Sanggul menyebut bahwa kata “Jabar Ail” adalah bahasa Suryani, yang dalam bahasa Arab berarti “Jalalullah” atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti“Keagungan Allah”. Dalam bahasa Suryani, Jabar bermakna Keagungan, dan Ail bermakna Allah.

Urgensi dari tulisan ini yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa bahasa Suryani merupakan bahasa penting yang juga mempengaruhi khazanah ke-Islaman. baik dari segi sejarah, manuskrip, spritual dan sebagainya.

Walaupun sudah dijelaskan panjang lebar, tetap saja mengenai bahasa yang digunakan Nabi Adam dan bahasa yang digunakan oleh penduduk langit masih menjadi misteri dan perdebatan. Namun ini bukan menjadi hal yang sangat fundamental, karena berdebat dalam ranah ini sia-sia semata. Cuku ini menjadi wawasan dan tambahan pengetahuan kita, wallahualam bis shawab.

No comments:

Powered by Blogger.