Buang Jimat! Berikut 5 Alternatif Penglaris Usaha

Friday, August 11, 2017
Dapatkan: Game Kuis Sirah Sahabah

Uji wawasanmu seputar biografi sahabat-sahabat Rasul dengan game trivia ini

Download


Penggunaan jimat atau rajah sebagai penglaris dewasa ini tampaknya semakin menjadi. Tingginya persaingan usaha yang membuat para pelaku usaha untuk berfikir dua kali dan mencari alternatif agar dagangannya laris.

Salah satu jenis jimat yang sering digunakan oleh pedagang adalah  Maneki Neko, yaitu patung berbentuk kucing lucu. Boneka kucing kecil ini di sebut sebagai kucing pembawa keburuntungan, dan konon katanya sangat terkenal di budaya Jepang dan China. Boneka ini dianggap sebagai suatu jimat yang dipercaya mampu menyerap rezeki dan keberuntungan untuk sang pemilik. Karena itulah boneka ini akan sering di temui di toko-toko, tempat makan, dan tempat bisnis lainnya.

Selain itu jika kita perhatikan pada setiap gerbang depan toko, ada sebagian yang mengantungkan cermin. Benar, cermin ini merupakan salah satu jenis jimat yang berasal dari ajaran Feng Shui, nama aslinya adalah cermin Ba Gua.

Dengan menempatkannya di pintu masuk utama, mereka menyakini akan menyambut harmoni dan menciptakan nasib baik bagi semua orang yang masuk. Selain itu, cermin Ba Gua juga digunakan sebagai jimat untuk melawan Qi negatif yang bersifat roh-roh jahat, agar mereka tidak dapat masuk.

Dalam agama Yahudi juga dikenal sebagai Mezuzah. Menurut kepercayaan Kabbalah (mistisisme Yahudi), mezuzah diyakini bisa menangkal roh jahat yang ingin masuk ke dalam rumah, dan mereka yang memasang benda itu akan dilindungi sepanjang waktu. Mezuzah adalah sepotong perkamen yang mengandung ayat-ayat doa yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Mezuzah ini digulung dan dilekatkan ke kusen pintu dengan posisi diagonal.

Selain agama Yahudi, agama Budha juga memiliki jimat yang mereka sebut Hu. Pengguna hu adalah para umat Taoisme dan sebagian besar umat Buddha Mahayana. Hu biasanya dituliskan ke dalam sebuah kertas atau kain dengan ukuran tertentu yang berwarna kuning, hijau, putih atau merah. Sedangkan warna merah biasanya dipakai untuk pelaris untuk usaha dagang.

Jika anda berpergian ke Thailand atau menonton film produksi Thailand, tidak jarang akan diperlihatkan sebuah benda mistik yang sudah sangat akrab dengan umat Budha Thailand. Jimat Thailand atau Amulet merupakan jenis jimat berbentuk liontin yang banyak dipakai penganut Budha Thailand.

Menurut blog Ananda Manaloka yang saya kutip. Thai amulet adalah Sejenis jimat dari kebudayaan thailand yang penuh dengan mistik dan spiritual, jimat di Thailand memiliki akar budaya yang sudah sangat tua, mulai dari kepercayaan kuno asli Thailand, kepercayaan Hindu serta berakumulasi dengan ajaran Buddha yang telah ada sangat lama di Negara ini.

Amulet/ Jimat Thailand dapat berbentuk suatu images tertentu, umumnya adalah images Buddha, Para Orang suci yang dianggap telah mencapai suatu tataran kesucian tertentu.

Dalam ajaran Syiah juga memiliki jimat yang terkenal dengan nama Khamsa dan Nazar. Khamsa atau tangan Fathimah ialah semacam jimat berbentuk telapak tangan yang terkenal di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Khamsa ini biasanya dipasangkan dengan perhiasan atau hiasan dinding dan digunakan untuk melawan mata jahat ('ain -sihir).

Selain khamsa, benda lain yang digunakan untuk menolak evil eye adalah nazar. Nazar atau lucky eye adalah jimat keberuntungan yang banyak ditemukan di negara Turki, Armenia, Iran, dan Yunani. Di wilayah India Utara dan Pakistan, simbol yang digunakan untuk mengusir mata jahat disebut dengan nazar battu.

Menurut tulisan Ali Reza dalam blognya, Di Iran, nazar banyak dipajang di toko-toko sebagai pelaris dagangan. Di sana benda ini disebut waiy yakad, nama yang diambil dari awal kalimat ayat 51 surah Alqalam.

Agama yang memiliki paling banyak jimat sepertinya agama Hindu. Dari agama inilah yang kemudian mempengaruhi agama-agama lain dalam hal mistik, termasuk juga kedalam ajaran agama Islam oleh kelompok tertentu.

Penggunaan jimat sendiri dianggap sebagai upaya ikhtiyar dalam pencapaian suatu hajat tertentu. Termasuk dalam hal penglarisan usaha.

Salah satu pemandangan yang sering saya saksikan dari dalam toko dan warung di kota Banda Aceh adalah maraknya penggunaan jimat. Wujud dari jimat itu sendiri tampil dengan aksen agamis yang diekstrak dari unsur-unsur Al-Quran maupun tulisan-tulisan Arab.

Saya memiliki sebuah buku terjemahan sebuah kitab yang berisi puluhan azimat (jimat) dengan berbagai khasiat. Setiap jimat memiliki syarat dan teknis tertentu dalam pembuatannya, baik dibuat dalam hari-hari tertentu atau penggunaan material tertentu seperti tinta Za'faran atau Misk. Bentuknya-pun bermacam-macam, juga tidak ketinggalan jimat-jimat penglaris usaha.

Banyak ulama yang melarang praktik jimat karena menjerumus kepada kesyirikan, terlebih penggunaan jimat juga dilarang oleh Rasulullah dalam berbagai banyak hadits.

Saya mengerti bahwa anda yang membaca tulisan ini bisa jadi memegang pendapat yang membolehkan penggunaan azimat ataupun memang juga mengamalkannya.

Disini saya tidak membahas hukum jimat, melainkan saya ingin menawarkan beberapa alternatif dalam hal urusan penglaris usaha yang dijamin aman dan teruji serta membuang jimat-jimat yang sudah diamalkan.

Jika alasan anda mengamalkan jimat sebagai bentuk ikhtiyar (usaha) saya kira anda mengabaikan sekian banyak amalan penglaris yang diajarkan Allah dan Rasulullah. Kenapa kita malah mengesampingkan cara yang Allah dan Rasul beri?

Lalu apa sebutannya jika kita lebih mengutamakan pengamalan jimat yang belum tentu aman, mujarab dan bergaransi daripada amalan-amalan sunnah yang sudah dijamin?

Berikut adalah amalan-amalan alternatif pembuka pintu rezeki yang tidak perlu syarat yang ribet dan berat serta ringan diamalkan.


1. Istighfar

Ini merupakan amalan paling-paling ringan yang dapat anda amalkan untuk penglaris. Dengan mewiridkan istighfar (yang tentunya dibaca dengan penuh kesadaran bukan asal baca) sembari menunggu pelanggan makan itu akan menambah keberkahan dan rezeki.

Allah Ta’ala berfirman,
Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Terdapat sebuah atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.

“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al-Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al-Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.

Kemudian setelah itu Al-Hasan Al-Bashri membacakan surat Nuh di atas. (Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, 11: 98)

Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:

“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Maka silahkan perbanyaklah istighfar, serta tunggulah buahnya. Jika buahnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa! Di dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun memungkinkan; di waktu-waktu kosong saat berada di kantor, ketika menunggu dagangan di toko, saat menunggu burung di sawah dan lain sebagainya.

2. Bertaqwa

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan kita penjelasan menarik mengenai pengertian takwa. Beliau rahimahullah berkata,

“Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan  diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah. Allah Ta’ala berfirman,

“Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” Inilah hadits shahih yang disebut dengan hadits qudsi diriwayatkan oleh Imam Bukhari.” (Majmu’ Al-Fatawa, 10: 433)

Contoh bertakwa misalnya, shalat berjamaah, shalat dhuha, shalat tahajut, puasa sunnah, tidak menipu, tidak riba, tidak mendzalimi dan sebagainya. Ringan saja bukan?.

3. Menjalin Silaturrahmi

Silaturahim adalah menjalin hubungan dengan kerabat yang pernah putus atau terus menjalin yang telah selama ini ada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).

Kata Imam Nawawi dilapangkan rezeki adalah diluaskan atau diperbanyak rezekinya. Juga bisa maksudnya adalah Allah berkahi rezekinya. (Syarh Shahih Muslim, 16: 104)

Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”

4. Perbanyak Infaq dan Sadaqah

Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh [2]: 261)

Dalam ayat lain juga disebutkan;

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)

Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:
  1. Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Secara inderawi dan realita bisa dirasakan.
  2. Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128)

5. Memperbanyak Do'a

Memang kelihatannya remeh, namun apabila disandingkan dengan poin-poin diatas maka doa-doa yang dipanjatkan akan mudah sangat dikabulkan. Doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia menyatakan:

Setiap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Shubuh, setelah salam, beliau membaca do’a berikut,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Artinya:
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Juga do’a lainnya dari hadits ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan doa berikut,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Artinya:
“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Bagaiamana? cukup mudah dan simple kan?. Jika ada amalan yang lebih afdhal kenapa harus disia-siakan. Bukankan Islam sudah mengajarkan berbagai hal mengenai kehidupan termasuk bagaimana dalam mencari rezeki. Jadi tidak perlulah untuk menambah-nambah hal-hal yang baru, toh amalan ini saja belum habis diamalkan.

Semoga artikel ini dapat sedikit banyak mebantu bagi pelaku usaha agar lebih berkah dan laris lagi. Ingat, kalau sudah sukses zakat dan handai taulan jangan dilupakan. Allah menitipkan rezeki mereka dari penghasilan-penghasilan kita. Bahagia itu bukan soal banyaknya harta yang dikumpulkan Bahagia itu ketika melihat senyuman orang karena usaha kita.

Sumber : https://rumaysho.com dan https://muslim.or.id/

No comments:

Powered by Blogger.