5 Alasan Kenapa Pernyataan "Tuhan Tidak Beranak" Oleh Habib Rizieq Tidak Salah

Monday, January 02, 2017
Dapatkan: Game Flaguess

Uji wawasanmu seputar bendera negara yang ada didunia dengan game trivia ini

Download


Akhir-akhir ini kita mendengar Habib Rizieq Syihab dilaporkan ke Polda Metro Jaya, Senin (26/12/2016). Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu dituding menistakan agama Kristen melalui ceramahnya pada Ahad (25/12/2016) di Pondok Kelapa.

Pelapor adalah Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI).  Angelo melaporkan Habib Rizieq dengan pasal yang sama seperti kasus Ahok yakni pasal 156 dan 156a KUHP. Selain itu, pihaknya juga melaporkan Habib Rizieq melanggar UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Lebih jauh Angelo mengatakan bahwa ucapan Habib Rizieq yang menista agama terkait dengan pernyataan jika Tuhan beranak siapa bidannya. Menurut Angelo, pernyataan itu menyakiti pihaknya.

Menyikapi laporan ini, DPP FPI menyatakan bahwa Habib Rizieq hanya mendakwahkan Surat Al Ikhlas yang menyatakan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Namun berikut 5 alasan kenapa pernyataan "Tuhan Tidak Beranak" oleh Habib Rizieq tidak salah versi zulfanafdhilla.com.

1. Dogma yang disampaikan dalam komunitas sendiri (dalam jamaah sendiri). Tidak dikalangan umum dan kepada orang awam. Serta dalam acara yang dilegalkan. Oleh karenanya apa yang disampaikan bukan penistaan agama. Berbeda apabila dalam forum majemuk atau kristen. Tidak logis apabila disebutkan dihadapan jamaah kristen di gereja.

2. Dogma yang disampaikan berdasarkan ilmu dan dalam forum ilmu walau tidak satu komunitas. Seperti Zakir Naik dan Ahmad Deedat, mereka melakukannya dalam forum ilmu walau yang hadir dari berbagai latar belakang. Dan dimaklumi karena forum itu. Artinya apa yang disampaikan tidak sesuai nafsu (menghina) tetapi sesuai ilmu.

3. Sebutan Yesus dalam penyampaian Habib Rizik berdasarkan prespektif Islam yaitu Nabi Isa. Artian Yesus yang disampaikan dimaksudkan Nabi Isa. Maka logika yang digunakan disini sesuai ideologi muslim yang beranggapan Yesus (Isa) bukan anak tuhan. Dengan begitu seharusnya pernyataan Isa Anak Tuhan merupakan bentuk penistaan bagi umat muslim, karena bagi muslim Allah itu tidak beranak. Tapi umat muslim memaklumi karena pernyataan Yesus disana adalah Yesus (Nabi Isa) dalam prespektif ideologi Kristen.

4. Sebutan "Tuhan Tidak Beranak" bukan bentuk penistaan tetapi dogma dalam ideologi dan teologi Islam. Jika difaami sebaliknya, maka sebutan Allah dalam ajaran kristen bentuk penistaan kepada Muslim. Karena dalam ajaran kristen Allah menjelma menjadi manusia dalam wujud Yesus (Nabi Isa). Jika seperti ini maka patron toleransi kita sudah bergeser.

5. Sebutan "siapa bidannya" juga bukan bentuk penistaan karena pernyataan tersebut adalam bentuk penyampaian dogma ajaran Tauhid dengan metode dialektis khusus bagi umat muslim. Apabila pernyataan ini disampaikan pada forum majemuk atau khusus kristen dan dihadiri pula oleh jamaah komunitas lain (kristen) maka itu menjadi penistaan karena tidak menghargai keyakinan para hadirin. Faktanya forum itu disampaikan dalam komunitas muslim.

Jika kita lihat video secara menyeluruh sejatinya Habib sedang menjelaskan konsep toleransi yang dijelaskan secara bertahap.

saya sendiri melihat apa yang dilakukan oleh PP PMKRI adalah bentuk kefrustasian dari asmosfer politik yang sedang panas-panasnya akhir ini. Selebihnya saya juga melihat apa yang dilakukan PP PMKRI adalah bentuk intoleransi dan merusak hubungan dan harmonisasi antar umat beragama, serta apa yang disampaikan Habib sudah sesuai proporsinya dan tidak melanggar. Apajadinya jika kita saling lapor melaporkan antara satu sama lain karena menggugat ideologi orang lain?.

No comments:

Powered by Blogger.