Latest News
Monday, 25 August 2014

Agama Zoroaster (Zoroastrianism - Mazdayasna)

zarathustra

Zoroastrianisme atau Mazdayasna adalah sebuah agama dan ajaran filosofi yang didasari oleh ajaran Zarathustra yang dalam bahasa Yunani disebut Zoroaster. Zoroastrianisme dahulu kala adalah sebuah agama yang berasal dari daerah Persia Kuno atau kini dikenal dengan Iran. Di Iran, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan Mazdayasna yaitu kepercayaan yang menyembah kepada Ahura Mazda atau "Tuhan yang bijaksana". Di Arab, Zoroastrianisme dikenal dengan sebutan MajusiKata “majusi” yang disebut dalam bahasa Arab yaitu orang-orang Zoroaster diadaptasi dari kata “ma-gu-sy” atau “magu” Persia kuno yang kemudian menjadi Magus setelah kata ini masuk dalam peristilahan bahasa Yunani. Kata magic dalam bahasa Inggris juga diadopsi dari kata ini. Dengan masuknya kata ini ke dalam bahasa Arab, kata ini kemudian menjadi Majusi. Agama ini dibangus oleh Zarahustra.

Lambang


Faravahar (atau Ferohar), salah satu simbol dalam Zoroastrianisme sebagai roh penjaga.

Latar Belakang Agama Zoroastrianism

Zarathustra atau Zoroaster adalah pelopor berdirinya Zoroastrianisme di Iran (Persia). Ia hidup sekitar abad ke-6 SM. Zarathustra berasal dari keturunan suku Media. Ia adalah seorang imam yang dididik dalam tradisi Indo-Iran. Sebelumnya, agama yang ada di Iran (Persia) bersumber pada macam-macam ajaran seperti politeisme, paganisme, dan animisme. Zarathustra yang merasa tidak puas dengan ajaran-ajaran yang berkembang di Iran pada waktu itu berusaha membawa pembaruan. Oleh sebab itu, oleh para ahli ia kemudian dianggap sebagai salah satu tokoh pembaru agama tradisional. Zarathustra dikenal sebagai "nabi" yang mempunyai karunia untuk menyembuhkan dan sanggup melakukan berbagai mujizat. Selama bertahun-tahun ia berusaha menemukan penyingkapan-penyingkapan dari kebenaran spiritual.

ZoroasterZarathustra ingin memperbaiki sistem kepercayaan dan cara penyembahan kepada dewa-dewa yang berkembang di Persia saat itu. Pada usia tiga puluh tahun, Zarathustra menerima sebuah penglihatan. Menurut legenda, ia melihat cahaya besar yang kemudian membawanya masuk dalam hadirat Ahura Mazda. Sejak perjumpaannya dengan Ahura Mazda, Zarathustra menjadi semakin giat menyebarkan ajaran bahwa segala sesuatu yang baik berasal dari Ahura Mazda. Ajarannya yang sangat berbeda dengan kepercayaan yang ada pada waktu itu menyebabkan Zarathustra mendapat tekanan.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dan pergi ke Chorasma atau (Qarazm). Pada tahun 618 SM Raja Chorasma yaitu Vitaspa dan menterinya Yasasp yang menikahi Pauron Chista kemudian menjadi penganut Zoroastrianisme. Barulah Zoroastrianisme mengalami perkembangan dan semakin bertambah banyak yang menjadi pengikutnya. Zarathustra meninggal di usia 77 tahun. Ketika Islam berkuasa di Persia tahun 636-637 Masehi, Zoroastrianisme sempat mengalami kemunduran. Banyak penduduk Persia yang lebih tertarik kepada agama Islam. Sekelompok pemeluk Zoroastrianisme kemudian pergi ke India dan menetap di Bombay. Di sana mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Parsi.

Ajaran Zoroasterianism

Terdapat 3 konsep penting dalam Zoroaster: Goftare Nik, Pendare Nik, Kerdare Nik (berkata, berpikir dan berlaku baik). Mereka juga menghormati api dan menjaganya tetap hidup dalam perayaan di Atashkade (tempat ibadah). Mereka juga berbuat baik kepada hewan, terutama anjing dan sapi, bertingkah laku baik terhadap masyarakat. Mereka tidak mengubur mayat dalam tanah atau membuangnya ke laut, atau membakarnya, karena itu semua adalah suci. Mereka biasanya meletakkannya di sebuah tempat yang bernama dakhme, sehingga dekomposer atau hewan lainnya memakan mayat mereka. Namun beberapa dekade ini mereka mulai mengubur mayat dalam tanah.

Tentang akhir zaman, mereka yakin akan adanya seorang munji atau juru selamat yang akan memenuhi bumi dalam kedamaian. Terdapat tiga munji yang akan muncul:
  1. Hushidar, yang muncul 1000 tahun setelah Zartosht.
  2. Huhidarmah, yang muncul 2000 tahun setelah Zartosht.
  3. Sushiyans yang muncul 3000 tahun setelah Zartosht.
Mereka juga berkayakinan akan adanya hari akhirat, dan percaya bahwa ruh manusia akan hidup abadi di alam sana. Mereka percaya akan adanya alam barzakh dan penghisaban amal baik dan buruk, berakidah akan adanya jembatan sirath. Namun yang menarik dari ajaran ini, Neraka mereka tidak panas, melainkan nereka adalah sebuah tempat yang sangat dingin dan kotor yang dipenuhi oleh hewan yang siap menyiksa mereka. [sejarah.kompasiana.com]

ManusiaDalam teks yang berjudul “Nasihat Pilihan dari Para Bijak Bestari Zaman Dulu” atau dikenal juga sebagai “Kitab Nasihat Zartusht” ditemukan konsep tentang manusia. Manusia pada asalnya, adalah wujud gaib, dua rohnya, dalam bentuk Fravashi, ada sebelum jasmaninya. Baik jasad maupun rohnya adalah ciptaan Ahura Mazda, dan roh tidak bersifat abadi. Manusia adalah milik Tuhan dan kepada-Nya dia akan kembali.

Ahriman atau Angra Mainyu adalah penentang Tuhan. Dia seperti Tuhan adalah roh gaib murni; Ahura Mazda adalah musuh abadi, cepat atau lambat pertarungan di antara keduanya tidak akan terelakkan. Penciptaan atau makhluk bagi-Nya merupakan suatu kebutuhan bagi pertarungan-Nya melawan syetan, dan manusia berada di garis depan pertempuran ini. Dalam hal ini, manusia tidak dipaksa Tuhan, tetapi karena dia bebas dan sukarela menerima peran ini ketika ditawarkan kepadanya. Di dunia, setiap orang bebas memilih baik atau buruk. Jika dia memilih keburukan berarti dia bertindak tidak alami, karena “ayahnya” adalah Ahura Mazda.[Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 271]

Hal diatas sesuai dengan pendapat As-Syahrastani yang mengatakan, “Manusia bertugas untuk senantiasa membantu kebaikan dan cahaya di tengah pergulatan Ahura Mazda dan Ahriman. Hal ini dapat diwujudkan dengan senantiasa melakukan kebaikan, berakhlak mulia, serta menerapkan undang-undang dan hukum dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu dilandaskan atas kebebasan untuk memilih. Siapa yang memilih kebaikan dan kebenaran, maka dia akan menuai hasilnya di kehidupan dan akhirat yang abadi kelak. Adapun orang yang membela kejahatan dan kedustaan, dia pun akan mendapatkan siksa di neraka yang abadi.”

Bagi agama Zoroaster peran manusia di dunia, yaitu bekerja sama dengan alam serta menjalani kehidupan yang saleh dengan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik. Di dunia, manusia memiliki kewajiban untuk hidup berumahtangga dengan memiliki istri dan anak. Semakin banyak manusia, semakin baik karena akan semakin mudah mengalahkan Ahriman.

Konsep Etika

Sebagian besar ajaran agama Zoroaster adalah menyangkut masalah etika. Moralitas Zoroaster diungkapkan dengan tiga kata; humat, hukht, dan huvarsht- pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik. Yang paling utama dari ketiga hal itu, adalah perbuatan baik.

Yang paling utama dan penting bagi manusia adalah bertindak sesuai akal sehat. Manusia hendaknya menikmati hal-hal yang baik di dunia ini sambil mempersiapkan diri dengan perilaku yang benar dan masuk akal bagi kehidupan abadi di akhirat. Kehidupan yang pertama itu lebih buruk, karena mengandung makna penghinaan kepada Tuhan yang menjadikan dunia dan membuatnya baik serta menempatkan manusia di dalamnya untuk melawan kejelekan dan kejahatan yang hanya bisa dicapai dengan memakmurkan dunia.

Inti ajaran Adhurbadh bin Mahraspand adalah
"Hiduplah dengan baik dan menjadi orang yang berguna, berilah perhatian kepada sesama, laksanakan kewajiban-kewajiban agama, garaplah tanah, hiduplah berkeluarga dan didiklah anak-anak sehingga menjadi terpelajar. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini adalah sebuah pendahuluan bagi hidup di hari nanti. Dan roh orang yang meninggal akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dikerjakannya di dunia.”
Selain itu, agama Zoroaster juga mengajarkan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan pada hari-hari yang berlainan setiap bulannya. Misalnya, (119-134) Minumlah anggur dan bersukarialah. Pakailah baju-baju baru. Pergilah ke kuil api. Bergembiralah. Olahlah tanahmu. Galilah saluran irigasimu. Tanamlah semak dan pohon. Cucilah kepalamu, potong rambutmu dan kukumu. Berjalan-jalanlah dan jangan membikin roti karena hal itu adalah dosa besar. Dan sebagainya.[Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 281]

Konsep Ketuhanan

Di dalam ajaran Zoroastrianisme, hanya ada satu Tuhan yang universal dan Maha Kuasa, yaitu Ahura Mazda. Ia dianggap sebagai Sang Maha Pencipta, segala puja dan sembah ditujukan hanya kepadanya. Pengakuan ini adalah bentuk penegasan bahwa hanya Ahura Mazda yang harus disembah di tengah konteks kepercayaan tradisional masyarakat Iran yang kuat dengan pengaruh politeisme.


Zoroastrianisme mempunyai prinsip dualisme yang mempercayai bahwa ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling beradu yakni kekuatan kebaikan dan kejahatan. Dalam tradisi Zoroastrianisme, yang jahat diwakili oleh Angra Mainyu atau Ahriman, sedangkan yang baik diwakili oleh Spenta Mainyu. Manusia harus selalu memilih akan berpihak pada kebaikan atau kejahatan selama hidupnya. Akan tetapi, dengan paham dualisme ini tidak berarti bahwa Zoroastrianisme tidak mengakui monoteisme karena Ahura Mazdalah satu-satunya Tuhan yang disembah. Ahura Mazda, pada saatnya akan mengalahkan kekuatan yang jahat dan berkuasa penuh. Ahriman dan para pengikutnya akan dimusnahkan untuk selamanya. Meskipun ajaran Zarathustra mengajarkan monoteisme dengan Ahura Mazda sebagai satu-satunya dewa yang harus disembah namun keberadaan dewa-dewa lain pun tetap diakui. Dewa-dewa yang turut diakui keberadaanya ada lima yaitu:
  1. Asha Vahista, dewa tata tertib dan kebenaran yang berkuasa atas api
  2. Vohu Manah, dewa yang digambarkan sebagai sapi jantan ini dikenal sebagai dewa hati nurani yang baik
  3. Keshatra Vairya, yaitu dewa yang berkuasa atas segala logam
  4. Spenta Armaity, yaitu dewa yang berkuasa atas bumi dan tanah
  5. Haurvatat dan Amertat, yaitu dewa-dewa yang berkuasa atas air dan tumbuh-tumbuhan
Keyakinan terhadap Ahura MazdaPengakuan keimanan yang harus diucapkan setiap orang yang beriman di dalam agama Zoroaster (Credo (syahadat)) itu berbunyi:
I confess myself a worshipper of Mazda, a follower of Zarathustra, one who hates the daevas, and who obeys the Law of Ahura.
(Saya mengaku diriku penyembah Mazda, pengikut Zarathustra, yang membenci daevas dan mentaati Hukum Ahura).

Di dalam kebaktian sehari-hari, setiap orang beriman itu harus menegaskan kepercayaan bahwa ajaran Zarathustra itu melebihi ajaran agama-agama lainnya, dengan mengucapkan:
Yes, I praise the Faith of Mazda, the holy creed which the most imposing, best and most beautiful of all religious which is exist and of all that shall in future to some to knowledge.
(Ya, saya memuji keimanan terhadap Mazda, pengakuan suci yang amat mengesankan itu, yang amat baik, amat molek dari seluruh agama yang ada dan yang bakal dapat diketahui masa depan).

Jadi, keimanan yang paling pokok di dalam agama Zoroaster itu adalah pengakuan terhadap Ahura Mazda, terhadap Kodrat Maha Tunggal dan Maha Bijaksana. Di dalam sebuah nyanyian keagamaan yang termuat pada bagian Gatha di dalam kitab Yasna dijumpai bait yang berbunyi:
From Him, that world has emanated, His guiding spirit is the Holy Spirit.
(Dari Dia, alam semesta berasal. Rohnya yang membimbing adalah Rohul kudus).[Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996. Hal 243-245]

Keyakinan terhadap Spenta Mainyu
Ahura Mazda itu, selain menciptakan alam, juga menciptakan kodrat-kodrat rohani yang dipanggil dengan Mainyu. Kodrat-kodrat rohani itu terbagi menjadi dua golongan: Spenta Mainyu dan Angro Mainyu. Spenta Mainyu bermakna Mainyu yang baik, dan Angro Mainyu bermakna Mainyu yang angkara.

Para pengikut Spenta Mainyu dari lingkungan kodrat-kodrat rohani itu dipanggil dengan ahuras, dan para pengikut Angro Mainyu dari lingkungan kodrat-kodrat rohani itu dipanggil dengan daevas.

Spenta Mainyu menempati kedudukan tertinggi dan termulia, terdiri atas enam kodrat rohani, satu persatunya memegang fungsi khusus, yaitu: Vohu Manah, perlambang ingatan yang baik dan menempati kedudukan sebagai utusan Ahura Mazda dan Asha, perlambang ketertiban dan keadilan; dan Kshatra, perlambang kesucian dan welas-asih; Haurvatat, perlambang kesentosaan dan kemakmuran; dan Ameretat, perlambang keabadian. Keenam Spenta Mainyu itu disebut Amesha Spenta atau Amshapands.

Keyakinan terhadap Angro Mainyu
Sebutan daevas dijumpai 66 kali di dalam kitab suci Avesta pada bagian Gatha, yakni bagian yang dipandang paling tertua dan masih memiliki ungkapan-ungkapan bahasa Iran Tua. Sebutan Angro Mainyu, sebagai kodrat yang angkara murka, hanya dijumpai dalam ayat-sisipan, yaitu di dalam Yasna, 45:2.

Di dalam kitab suci Avesta dengan tegas menyatakan secara berulang kali, bahwa:
Ahura Mazda, the Creator, radiant, glorious, greatest and best, most beautiful, most firm, wisest, most perfect, and the most bounteous Spirit.
(Ahura Mazda, maha Pencipta, maha cemerlang, maha agung, maha besar, dan maha baik, maha molek, maha teguh, maha bijaksana, maha sempurna, dan maha welas-asih). SBE, 31:195-196.
I am the Keeper, Health-bestower, Priest, Most Priestly of priests, property-Producer, King who rules at His will, liberal King. He who deceives not, He who is not deceived, energetic-One, Holiness, Great-One, Good Sovereign, Wisest of the Wise.
(Aku inilah yang memelihara, yang menganugerahkan kesehatan, imam, maha imam dari seluruh imam, yang memberikan kemakmuran, raja yang memerintah atas kemauannya, raja yang dermawan, dia yang tidak memperdayakan, dia yang tidak diperdayakan, sang Esa yang giat, maha Esa, penguasa yang baik, maha bijaksana dari yang bijaksana). SBE, 23:27-28.

Hal serupa itu berulang kali dinyatakan di dalam ayat-ayat lainnya di dalam kitab suci Avesta itu. Akan tetapi, Zend-Avesta, yang berisikan penafsiran Avesta, membuat ajaran Zarathustra yang monotheis berubah menjadi dualistik yang menempatkan Angra Mainyu itu sebagai kodrat yang sama kedudukannya dengan Ahura Mazda. Penglukisan tentang Hari Peradilan Terakhir itu di dalam kitab suci Avesta memperlihatkan bahwa Angro Mainyu itu disamakan kedudukannya dengan makhluk lainnya, dan harus mempertanggung-jawabkan segala tindakannya di hadapan Ahura Mazda. [Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996. Hal 247-249]

Peribadatan

Mary Boyce, dalam bukunya Zoroastrians, Their Religious Beliefs and Practice menjelaskan bahwa waktu ibadah orang-orang Iran zaman dulu adalah ketika matahari terbit, ketika tengah hari, dan ketika matahari terbenam. Waktu yang tersebut akhir tampaknya diperuntukkan bagi roh orang yang telah meninggal dunia. Zoroaster tampaknya memberikan dua tambahan lagi, sehingga dia mewajibkan kepada para pengikutnya untuk beribadat lima kali sehari. Tambahan pertama adalah waktu setengah siang seperti waktu Ashar dalam agama Islam, yaitu pertengahan antara tengah hari dan waktu matahari terbenam.

Tambahan baru lainnya adalah waktu tengah malam yang tenggang waktunya sampai saat matahari terbit. Doa ini dipersembahkan kepada Sraosha, Tuhannya doa. Selama waktu itu, ketika kekuatan kegelapan berada pada puncak yang paling kuat dan mencari-cari mangsa para pengikut Zoroaster harus bangun, mengisi minyak dan dupa pada tungku api dan memperkuat dunia kebaikan dengan doa-doa mereka.

Bentuk dan isi sembahyang yang dikenal dari praktek yang ada adalah sebagai berikut:
pertama, orang yang melaksanakan sembahyang mempersiapkan diri dengan mencuci wajah, tangan, dan kaki dari kotoran debu; kemudian melepas tali kawat suci dan berdiri dengan tali dipegang dengan kedua tangannya di mukanya, tegak lurus di hadapan penciptanya, matanya menatap simbol kebajikan, api. Kemudian dia berdoa kepada Ahura Mazda, mengutuk Ahriman dengan memukul-mukul kawat dengan penghinaan, memasang tali kawat lagi sambil berdoa. Keseluruhan pelaksanaan hanya memakan waktu lima menit, tetapi pengulangan secara teratur merupakan ibadah yang bernilai tinggi yang merupakan suatu disiplin yang terus menerus serta suatu pengakuan yang teratur terhadap ajaran-ajaran dasar keimanan.

Di samping kewajiban individu di atas, para pengikut Zoroaster masih memiliki kewajiban bersama yaitu merayakan tujuh macam peringatan hari besar tahunan. Waktu peringatan berbeda-beda: ada yang pertengahan musim semi, ada yang pertengahan musim panas, dan ada yang pertengahan musim dingin. Perayaan ini dirayakan dengan menghadiri upacara agama di pagi hari dan kemudian berkumpul bersama di dalam kegembiraan dengan pesta makan bersama.

Upacara-upacara khusus bagi kelahiran, menginjak usia pubertas, perkawinan, dan kematian juga diajarkan di dalam agama Zoroaster.[Mukti Ali, Agama-agama Di Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988. Hal. 286-287]

Kematian Dalam Zoroasterianism

Zoroastrianisme tidak mengizinkan penguburan dan pembakaran tubuh orang yang telah meninggal karena dianggap akan menodai air, udara, bumi dan api. Mereka menyelenggarakan ritus kematian dengan menempatkan mayat di atas Dakhma atau Menara Ketenangan (Tower of Silence). Di sana terdapat pembagian tempat yang jelas bagi kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak. Adapun tahap-tahap yang dilakukan saat upacara kematian adalah sebagai berikut:
  1. Mayat dibiarkan di dalam sebuah ruangan di rumah selama tiga hari sebelum dibawa ke Dakhma, tempat untuk melaksanakan upacara kematian.
  2. Sesudah itu, mayat lalu dibawa ke Dakhma atau Menara Ketenangan.
  3. Di sana mayat akan ditelanjangi dan ditidurkan di atas menara yang terbuka dan dibiarkan agar dimakan oleh burung-burung.
  4. Sisa-sisa tulang kemudian dibuang ke dalam sumur.
Dakhma atau Menara Ketenangan (Tower of Silence)


Agama Zoroaster meyakini bahwa tubuh manusia adalah tidak suci sehingga menurut mereka jasad manusia tidak boleh mengotori bumi dan api, atas dasar alasan tersebut jasad manusia tidak boleh di kubur atau di kremasi.

Oleh sebab itu orang yang telah meninggal jenazahnya akan di bawa ke kuil Towers of Silence agar di makan oleh burung pemakan bangkai, burung Nasar. Setelah daging dimakan habis oleh burung Nasar dan tinggal tersisa tulang belulang, maka tulang-tulang tersebut akan di buang ke tengah bangunan.

Perhatian: Foto-foto Mayat yang Kurang Mengenakkan!
Pada foto-foto di bawah ini Anda akan melihat mayat berada di bibir kuil sedangkan di tengah bangunan adalah tulang-tulang yang dagingnya sudah di makan oleh burung Nasar. Sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan. Bagi Anda yang merasa tidak kuat melihatnya, harap untuk tidak meneruskan melihat gambar di bawah ini!


Konsep Eskatologi: Kehidupan Setelah Kematian

Dalam pemahaman Zoroastrianisme, ajaran setelah kematian hampir mirip Islam. Setiap orang akan mengalami penghakiman setelah meninggal. Penganut Zoroaster meyakini bahwa ketika seseorang meninggal, ia harus dapat membuktikan dirinya telah melakukan lebih banyak kebaikan daripada kejahatan. Konsep kitab Avesta memberi dasar ajaran ini dan teks ini telah disalin dengan sedikit bervariasi di dalam kitab-kitab Pahlavi. Setiap roh manusia setelah meninggalkan kehidupan dunia akan bergentayangan menunggu selama tiga hari di dekat jasad yang sudah menjadi mayat. Pada hari ke empat, roh menghadapi pengadilan di atas Jembatan Cinvat (dalam Islam, Jembatan Sidratul Mustaqim/Muantaha) yaitu jembatan yang menuju ke sorga. Jembatan di jaga oleh dewa Rashu yang bertindak sebagai hakim yang secara sangat adil menimbang perbuatan baik dan buruk manusia. Jika perbuatannya lebih berat, roh tersebut di ijinkan langsung menuju surga, tetapi jika perbuatan buruk lebih besar, roh tersebut ditarik dan di masukan ke dalam neraka. Apabila perbuatan baik dan buruknya seimbang, maka roh tersebut dibawa ke suatu tempat yang bernama hamestagan atau tempat campuran. Tempat ini tidak disebut dalam teks Menok I Khrat, tetapi sering disebut dalam teks-teks lain.

Setelah berhasil melewati jembatan ini maka seseorang akan hidup bahagia dengan rahmat Ahura Mazda. Semakin banyak kebaikan yang dibuat seseorang maka akan semakin lebarlah jembatan itu dan sebaliknya, semakin besar kejahatannya maka semakin sempitlah jembatan itu hingga rohnya tidak dapat melewatinya dan jatuh dari Jembatan Cinvat. Di bawah jembatan inilah terdapat neraka yang penuh api, sebuah tempat yang suram dan penuh kesedihan. Menurut ajaran Zoroastrianisme, dunia akan mengalami pembaruan menuju kesempuranaan dan jiwa-jiwa baik yang masih hidup dan sudah mati akan dibebaskan selamanya dari kuasa jahat. Pembaruan dunia dan kebangkitan kembali seluruh ciptaan disebut Frashokeveti.

Neraka di dalam agama Zoroaster bukan merupakan tempat penyiksaan abadi. Neraka hanya bersifat sementara dan merupakan tempat penyucian dari noda-noda dosa. Agama Zoroaster memberikan penjelasan bahwa Tuhan adalah kawan manusia dan Dia tidak pernah membuat manusia menderita. Semua kejelekan dan semua penderitaan berasal dari Ahriman.

Hari Kebangkitan

Sebagaimana dapat dipahami dari uraian yang telah di kemukakan sebelumnya, pengadilan roh pada saat kematian hanyalah merupakan suatu pendahuluan bagi pengadilan akhir hari kiamat. Perhitungan terakhir, menurut agama Zoroaster, juga hanya berupa tiga hari penyucian di dalam logam yang meleleh dan setelah itu roh-roh terkutuk bangkit dari neraka dan seluruh umat manusia tanpa kecuali berkumpul dalam surga tempat mereka semua akan memuji Tuhan selamanya. Tuhan tidak mengutuk makhlukNya dengan siksaan abadi karena dosa-dosanya bagaimanapun besarnya. Semua dosa akan dihukum dengan setimpal di dalam neraka yang bersifat sementara. Neraka adalah tempat tinggal Ahriman dan Syaitan-syaitan. Tuhan melunakkan keadilan dengan rasa belas kasihan. Dia tidak mempunyai sifat yang kejam dan sama sekali tidak bisa murka.

Kitab Suci

Kitab suci orang-orang penganut Zoroaster adalah kumpulan tulisan-tulisan sakral yang dikenal dengan Avesta yang terbagi menjadi empat bagian. Keempat bagian itu terdiri atas:
  1. Kitab Yasna yaitu kumpulan doa-doa dan aturan-aturan ibadah. Kitab Yasna juga mencakup Ghata yakni kumpulan puji-pujian yang dipercayai sebagai hasil tulisan dari Zoroaster. Ghata terdiri dari 17 puji-pujian yang dibuat dalam bentuk puisi yang sulit diterjemahkan dan hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu.Puisi ini menceritakan tentang perjumpaan Zoroaster dengan Tuhan dalam suatu penglihatan.
  2. Kitab Visparat berisi puji-pujian penuh hormat serta permohonan kepada Tuhan.
  3. Kitab Vivevdat (Vendidad) yaitu tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ritual pemurnian.
  4. Kitab Khode Avesta, yaitu buku kumpulan doa sehari-hari yang di dalamnya juga mencakup Yashts, kumpulan puji-pujian dan puisi tentang kepahlawanan. [Joesoef Sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1996. Hal 223-226]

Tempat Ibadah

Para penganut Zoroastrianisme beribadah di dalam kuil yang disebut dengan Kuil Api. Disebut demikian karena di dalam kuil, api dibiarkan menyala terus-menerus sebagai lambang kehadiran dewa. Api bukan saja menyimbolkan kehadiran Tuhan tetapi juga sebagai simbol kesucian.
Kuil Zoroasteriansm di Iran

Ritus/Ritual dalam Agama Zoroaster

Navjote dikenal pula sebagai Sedreh-Pushi. Ini adalah upacara inisiasi dimana seorang anak, berusia antara tujuh sampai dua belas menerima Sudreh dan Kusti dan melakukan Kusti Ritual untuk pertama kalinya. Anak mulai belajar doa sehari-hari dan akan terlibat dalam pembasuhan sebagai bagian dari upacara. Upacara ini dilakukan oleh mobed (pendeta Zoroaster) dan wajib bagi semua keluarga Zoroastrian.

Navjota Ceremony

Navjota Ceremony

Pernikahan

Ada dua tahap dalam pernikahan Zoroaster. Pada tahap pertama, para mempelai, serta pengasuhnya menandatangani kontrak pernikahan. Tahap kedua adalah layanan diikuti oleh pesta dan perayaan yang secara tradisional diadakan selama 3 sampai 7 hari. Selama layanan, saudara perempuan menikah memegang syal putih diatas kepala pasangan. Pada saat yang sama, pasangan pengantin mengkristal gula kerucut yang digosok bersama guna mempermanis kehidupan pasangan itu. Kemudian, dua bagian syal yang dijahit bersama-sama dengan jarum dan benang untuk melambangkan penyatuan pasangan selama sisa hidup mereka. Secara tradisional, kedua calon mempelai menggunakan busana putih dan gaun putih. Warna putih adalah simbol kesucian dalam Zoroastrianisme.

parsipaghdi.com Wedding in Zoroastrianism

Festival dan Hari Raya dalam Agama Zoroaster

Kalender Zoroastrian
Kalender Zoroaster penuh dengan hari suci, pesta dan festival, memberikan Zoroastrianisme reputasi sebagai agama menyenangkan yang penuh dengan perayaan. Festival adalah aspek yang sangat menonjol dari ibadah Zoroaster dan terkait erat dengan musim. Kalender Zoroastrian dibagi menjadi 12 bulan. Setiap hari bulan dinamai Ahura Mazda, Amesha Spenta atau Yazata.

Kalender Zoroaster menyajikan masalah sulit bagi Zoroastrian, telah ada sejumlah perubahan selama berabad-abad dengan hasil bahwa sekarang ada tiga kalender yang berbeda: Fasli, Shahanshahi, dan Qadimi. Ini berarti bahwa festival yang dirayakan pada waktu yang berbeda tergantung pada kalender yang digunakan oleh masyarakat.

Khordad Sal (Ulang Tahun Zoroaster)
Khordad Sal dirayakan sebagai hari kelahiran Zoroaster. Tanggal yang dipilih adalah simbol sejak tanggal pasti kelahiran Nabi tidak bisa diidentifikasi secara akurat. Festival ini dianggap salah satu yang terpenting dalam kalender Zoroaster. Zoroastrianisme berkumpul di kuil Api, berdoa, dan kemudian merayakan dengan pesta.

Pesta Wajib (Gahanbars)
Zoroastrianisme memiliki tujuh pesta wajib, enam diantaranya disebut dengan gahanbars;
  1. Maidyozarem (Pesta pertengahan musim semi)
  2. Maidyoshahem (Pesta pertengahan musim panas)
  3. Paitishahem (Pesta membawa panen)
  4. Ayathrem (Membawa pulang ternak)
  5. Maidyarem (Pesta musim dingin)
  6. Hamaspathmaidyem (Pesta seluruh jiwa)
Asal-usul gahanbars yaitu tanggal kembalinya masyarakat pertanian pra-Zoroaster dari Dataran Tinggi Iran dan berhubungan dengan perubahan musim. Mereka menjadi perayaan keagamaan dan perayaan komunal riang dengan pesta dan sukaria.

Noruz (Tahun Baru)
Noruz atau Jamshedi Noruz adalah pesta wajib ketujuh dan didedikasikan untuk menembak. Ini adalah perayaan tahun baru Zoroaster dan terjadi pada musim semi. Noruz begitu tertanam dalam budaya Iran yang masih dirayakan sebagai Tahun Baru Iran di Iran Islam, meskipun tanpa konotasi religius. Banyak api yang menyala dan ada perayaan. Di zaman modern kembang api juga menjadi bagian dari perayaan.



oananews.com Nowruz Festive

Sekte-sekte dalam Zoroastrianisme

Terbaginya Zoroastrisme ke dalam beberapa kelompok bukan disebabkan karena perbedaan pemahaman teologi. Pembagian sekte-sekte ini karena waktu perayaan Tahun Baru yang berbeda-beda. Terdapat tiga sekte dalam Zoroastrianisme:
  • Kelompok Shenshahi yang merayakan Tahun Baru pada musim gugur sekitar bulan Agustus atau September
  • Kelompok Qadimi yang merayakan Tahun Baru pada musim panas, sekitar bulan Juli atau Agustus
  • Kelompok Fasli yang merayakan Tahun Baru pada musim semi yaitu setiap tanggal 21 Maret

Perkembangan Zoroastrianisme Masa Kini

Zoroastrianisme tidak menekankan pentingnya konversi. Mereka berusaha mempertahankan agamanya sebagai agama yang khas dalam komunitas mereka. Akan tetapi, mereka tetap membuka peluang bagi siapa saja yang hendak menjadi penganut Zoroastrianisme. Sepanjang abad 20, banyak orang-orang penganut Zoroastrianisme yang menetap di Iran dan India melakukan migrasi ke negara-negara lain. Kini, komunitas Zoroastrianisme dapat ditemukan di kota-kota besar seperti London,New York,Chicago,Boston dan Los Angeles dan telah hidup berbaur dengan komunitas-komunitas beragama lain.

Apakah Zoroastrianism itu Majusi?

Tentang ini ada beberapa pendapat, ada yang menyatakan kalau majusi dan zoroastrian adalah ajaran yang berbeda. ada yang bilang kalo majusi bukanlah agama monotheis, yang bertuhan dua yaitu ahura mazda, tuhan cahaya. dan ahriman, tuhan kegelapan. Sedangkan zoroastrian adalah agama monotheis, bertuhan ahura mazda dengan cara peribadatan menyembah api. tapi yang disembah bukan api, melainkan ahura mazda dalam simbol api.

Sebelum kedatangan Zoroaster yaitu sebelum masa kekuasaan Media, orang-orang pribumi non-Aria Iran, memiliki agama yang bernama ajaran Mage. Frase Magh (Magusy) dalam bahasa kuno Iran bermakna pelayan. [Husain Taufiqi, Âsynâi ba Adyân-e Buzurgh, hal. 56, Nasyr Samt, Teheran, 1386.]

Dalam bahasa Arab “majusi” yang disebut dalam bahasa Arab adalah orang-orang Zoroaster. Namun sejatinya, "Majus” tidak dapat disebut sebagai pengikut Zoroaster. Dewasa ini telah ditetapkan bahwa Majus disebut untuk para pengikut Media yang hidup sebelum masa Zoroaster.

Dalam Kitab Avesta, frase “Majus” digunakan untuk orang-orang yang menentang Zoroaster. Namun karena pada wilayah-wilayah Arab dan negeri Syam (Suriah), para pengikut ajaran Media lebih dikenal sebagai “Magusy” kemudian melekatlah pengikut Zoroaster sebagai Majus.” [Syaikh Mufid, Tashih al-I’tiqâdât, hal. 134, Catatan Kaki.]

Frase “Majus” tidak hanya disebutkan dalam al-Quran dan dengan memperhatikan bahwa mereka berhadap-hadapan dengan orang-orang Musyrik dan berada dalam barisan agam-agama samawi, dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki agama, kitab dan nabi. Sebagian riwayat kita juga menyokong masalah ini.

Suatu hari Asy’ats bin Qais bertanya kepada Imam Ali As, “Bagaimana Anda dapat mengambil pajak dari orang-orang Majusi (sementara mengambil jizyah hanya diperbolehkan dari Ahlulkitab) dan orang-orang Majusi tidak memiliki kitab samawi?” Imam Ali As menjawab, “Tidaklah demikian seperti yang engkau sangka! Mereka memiliki kitab samawi dan Tuhan mengutus seorang rasul kepada mereka…” [Abduali bin Jum’ah ‘Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, jil. 3, hal. 457, Ismaliyyan, Qum, 1415 H.]

Tidak diragukan lagi bahwa dewasa ini, Majus disebut sebagai para pengikut Zoroaster [Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 14, hal. 44, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S. ] atau paling tidak yang membentuk bagian terpenting dari pengikut agama Zoroaster. Namun sejarah Zoroaster sendiri tidak begitu jelas. Para pengikut Zoroster disebut dengan beberapa nama seperti Majusi, Parthia, Gheber.  [Âsynâi ba Adyân-e Buzurgh, hal. 62.]

Berdasarkan pendapat yang populer, Zarasustra (nabi ajaran Zoroaster) lahir pada tahun 660 SM dan diangkat sebagai nabi pada tahun 630 SM (pada usia 30 tahun). Disebutkan bahwa Zarasustra pada tahun 583 SM, ketika ia berusia 77 tahun dibunuh oleh orang-orang dari Turan; sebuah tempat pemujaan api di daerah Balkh (Afganistan).

Sepanjang beberapa ratus tahun yang lalu, para penganut ajaran Zoroaster menjaga agama di antara agama-agama yang ada di dunia lebih banyak yang sifatnya warisan. Pada hakikatnya dewasa ini pengikut agama Zoroaster sangat sedikit jumlahnya dan merupakan komunitas agama yang paling kecil di antara agama-agama hidup di dunia. Pada masa kini, di antara mereka terdapat serataus lima puluh ribu dari mereka yang tinggal di India dan kurang lebih sebanyak lima puluh ribu orang yang bermukim di Yazd, Kerman dan Teheran.

Zoroasterianism Bagian Dari Mazhab Agama Majusi

Sebagian pendapat mengatakan, Zoroastrianisme adalah mazhab dari agama majusi. Dan mazhab majusi tersebut adalah zoroastrianisme, manu, madzdak, tsanwiyah, disahniyah, dan zindiq.

Dalam kalangan penganut Majusi terdapat berbagai aliran dan golongan (Madzahab) seperti kalangan penganut berbagai agama-agama yang lain. Diantara aliran-aliran yang terbesar adalah:

A. Aliran Zoroaster
Ajaran Zoroaster diantaranya:

a. Kepercayaan kepada Tuhan
Di dalam kepercayaannya keapada Tuhan, Zoroaster berbeda dengan ajaran Majusi terdahulu yang mempercayai dua tuhan, akan tetapi Zoroaster mempercayai hanya satu Tuhan yaitu tuhan kebaikan (Ahuramazda) yang merupakan tuhan mutlak. Sementara tuhan kegelapan atau tuhan kejahatan (Ahriman) menurut ajaran Zoroaster itu bukanlah tuhan. Melaikan roh jahat yang selalu mengajak manusia untuk berbuat jahat.

b. Kitab suci
Zoroaster juga memiliki kitab suci yang mereka namai dengan nama “Avesta”, sebuah kitab suci yang disusun dengan bahwa Persia kuno, (bahasa Pahlawy) yang halus, yang ada pada masa sekarang ini bahasa tersebut hamper tidak bisa dikenal. Sebagian besar kitab tersebut hilang, sebagian yang lain telah diterjemahkan ke bahasa Persia modern yang biasa dibaca oleh orang-orang Zoroaster ketika beribadah.

c. Kepercayaan kepada Akhirat
Agama Zoroaster juga mempercayai kehidupan akhirat. Menurut ajarannya bahwa manusia akan melewati dua kehidupan kehidupan yang pertama adalah kehidupan dunia ini. sementara yang kudua adalah alam akherat setelah manusia mati. Dan manusia akan merasakan bahagia atau sengsara tergantung amal perbutannya di dunia.

d. Yang mempengaruhi keadaan manusia
Menurut ajarannya pula bahwa manusia di pengaruhi dua kekuatan yang saling berlawanan yaitu pengaruh roh kebaikan dan roh keburukan. Manusia diciptakan oleh Ahuramadza yang diberikan kebebasan dalam menentukan kehendak. Sehingga manusia bisa jahat dan bisa baik tergantung mereka mengikuti roh jahat atau roh baik. Jika manusia mengikuti roh baik dengan menjalankan segala kebaikan maka Ahuramadza akan memberikan pahala, sementara jika mengikuti roh jahat dengan melakukan perbuatan yang jahat, maka ia akan mendapatkan dosa.

e. Terjadinya kiamat
Ajaran Zoroaster juga mempercayai akan adanya hari kiamat. Setelah dilakukan perhitungan amal manusia masing-masing maka manusia akan melintasi jalan untuk mencapai surga. Manusia yang memiliki amal yang banyak akan mudah melaluinya, semetera manusia yang banyak dosanya maka ia akan terjatuh dan masuk neraka bersama pengikut AHriman dalam siksa neraka.

f. Tata cara kehidupan
Dalam kehidupan Zoroaster mengajarkan agar manusia untuk menikah, berketurunan, memelihara utsan penghidupan, pertanian dan peternakan. Sama seperti halnya agama yang lain.

g. Akhlak
Zoroaster mengajarkan kepada pemeluknya untuk menolong tuhannya mengalahkan roh jahat dengan melakukan pemurnia pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik; kebersiahan hati yang pemurah dan dermawan; pengasih kepada binatang terutama hewan yang berguna; melakukan pekerjaan yang bermanfaat ; menolong kepada sesame manusia terutama orang-orang yang membutuhkan; memberikan pendidikan dan pengajaran yang baik.

Inti dari ajaran Zoroaster terletak pada tiga perkara yaitu “Huhata” yang berate “Pikiran yang bik”, “Hukhata” yang berarti “Perkataan yang baik”, dan “Huharsta” yang berarti “Perbuatan yang baik”.

B. Aliran Manu
Diantara ajaran yang diajarkan oleh aliran ini diantaranya:

a. Tentang baik dan buruk
Menurut ajaran manu ini bahwa segala kehidupan ini adalah kebaikan, karena akhirnya Tuhanlah yang akan menang atas roh kejahatan; oleh karenanya manusia hendaknya membantu Tuhan mengalahkan roh jahat dengan melakukan segala kebaikan.

b. Anjuran menghentikan perkawinan
Selain itu menurut mereka pertempuran antara kebenaran dan kejelekan akan terus berlangsung selama manusia terus berkembang. Oleh karena itu menurut mereka agar semua kejahatan dan kejelekan cepat berakhir maka manusia harus menghentikan perkembang biakanya dengan kata lain tidak menikah agar tidak memiliki keturunan.

c. Zuhud
Menurut ajaran ini pula, manusia harus menjauhi segala kesenangan dunia. Termasuk melarang menikah, menyembelih binatang dan makan daging.

d. ‘Ibadat
Dalam ajarannya pula, aliran Manu mengajarkan peribadatan yaitu sembahyang dan puasa, sebelum sembahyang mereka mengusap anggota badan dengan air, kemudian menghadap matahari, lalu bersujud. Dalam tiap kali sembahyang ada dua belas kali bersujud; pada tiap sujud dilakukan doa; mereka berpuasa 7 hari dalam sebulan.

C. Madzdak
Aliran ini ajarannya mirip dengan ajaran Majusi kuno yakni meyakini adanya dua tuhan, yaitu tuhan baik dan tuhan keburukan. Selain itu ajaran yang paling terpenting dari aliran ini adalah ajaran yang mirip dengan sosialisme yang menyatakan bahwa manusia harus sama derajatnya. Yakni tidak memiliki stara social. Dan menurut mereka penyebab utama dari kejahatan dan peperangan adalah wanita dan harta, yang menyebabkan pengikut aliran ini membuat kekacauan di Naishaburi. Karena mereka memaksa orang-orang hartawan untuk menyerahkan harta mereka dan menyerahkan wanita agar tidak terjadi kekacauan atau peperangan.

D. Tsanwiyah
Diantara ajarannya selain mengakui dua tuhan, mereka juga mengajarkan untuk menyembah api, selain mereka juga menyembah berhala.

E. Disahniyah
Dishaniyah adalah ajaran Majusi yang lahir di luar persi. Yang didiraikan oleh bangsa Siryani (Sirya) yang bernama Bardaishan datau ibnu Dishan yang wafat pada tahun 222 M. ajarannya mirip dengan ajaran Manu yang menyatukan dua ajaran yakni Nasrani dan Majusi. Hanya saja perbedaanya adalah menurut mereka bahwa Isa Al Masih merupakan Allah yang diserupakan dalam bentuk manusia yang diutus untuk manusia. Selain itu ajarannya juga yang berbeda dengan yang lainnya yaitu mereka tidak mempercayai adaanya hari akherat. Sehingga menyebabkan aliran ini yang sangat berbeda dengan yang lainnya.

F. Zindiq
Zindiq adalah sebuah aliran Majusi yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Yakni agama Majusiah yang Atheis yakni tidak percaya akan adanya Tuhan. Menurut mereka bahwa alam raya ini terjadi dengan sendirinya, dan tidak akan berakhir, kekal selama-lamanya, dan zaman yang beredar ini akan terus berputar tiada akan berakhir.

Sumber:

  • http://www.islamquest.net
  • (Inggris)S.A Nigosian. 1990. World's Faiths. St.Martin's Press. hlm. 81, 87-91.
  • (Inggris)Mary Pat Fisher. 1997. An Encyclopedia of The World's Faith Living Religions. Tauris Publisher. Hal. 208-214.
  • (Indonesia)H.M Arifin. 1986. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Golden Trayon. Hlm. 18, 20-24.
  • (Inggris)Elizabeth Dowling, George Scarlett. 2006. Encyclopedia of Religious aand Spiritual Development. California: Sage Publications. Hlm. 495.
  • (Indonesia)M.Dhavamony. 1995. Fenomenologi Agama. Jogjakarta: Kanisius. Hlm. 124.
  • (Inggris)Mary Boyce. 1996. A History of Zoroastrianism. Leiden:E.J Brill. Hlm. 286.
  • (Inggris)Diane Morgan. 2001. The Best Guide to Eastern Philosophy and Religion. Renaissance Books. Hlm. 301.
  • (Indonesia)Michael Keene. 2006. Agama-Agama Dunia. Jogjakarta: Kanisius. Hlm. 175.
  • http://sejarah.kompasiana.com/2013/12/31/mengenal-agama-zoroaster-622876.html#
  • http://agamaminorr.wordpress.com/2013/05/28/agama-zarathustra/

 Selangkah lagi anda jadi pengusaha!
  • Komentar Dengan Blogger
  • Komentar Dengan Facebook

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Agama Zoroaster (Zoroastrianism - Mazdayasna) Rating: 5 Reviewed By: Zulfan Afdhilla