Latest News
Tuesday, 25 December 2012

Tashawwuf Falsafi

Assalamualaikum, Ikhwan dan Akhawat. Nexts lanjut ni postingan tentang tashawwuf falsafi. Sesudah sebelumnya tashawwuf sunni. Dalam tashawwuf ini ternyata asal mula penyimpangan dalam tashawwuf itu bermula. disini sudah banyak pemikiran yang meninggalkan jalan(Tariq) sunnah maupun Al-Quran dan lebih menggunakan ajaran pikiran. Sehingga muncul berbagai aliran tarekat dalam Islam.

Seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya tentang tashawwuf sunni, perdebatan yang begitu sengit yang terjadi di golongan para sufi telah menyebabkan terpecah menjadi dua kelompok golongan pertama suni dan yang kedua falsafi. Parapengikut golongan ini bahwa persatuan mistis sebagai tujuan terakhir dan tertinggi dalam perjalanan rohani. Kelompok ini terpesona oleh keadaan fana’ sebagai jalan menuju persatuan diri mereka dengan tuhan. Baik dalam bentuk ittihad maupun dalam hulul. Makanya Tasauf yang di anut kelompok ini idsebut “tasauf Semi –falsafi” yang kemudian berkembang dari “tasauf palsafi” dalam bentuk yang lebih jelas dan sempurna, pada abad ke-6 dan ke-7 H.
Corak dari pada tasawwuf falsafi tentunya sangat berbeda dengan tasawwuf yang pernah diamalkan oleh masa sahabat dan tabi’in serta menyimpang jauh dari jalan(tariq) Al-Quran dan Sunnah, karena tasawwuf ini muncul karena pengaruh filasafat Neo-Platonisme dan lebih pemikirannya menggunakan akal(Filsafat).

Berkembangnya tasaawuf sebagai jalan dan latihan untuk merealisir kesucia batin dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Allah, juga menarik perhatian para pemikir muslim yang berlatar belakang teologi dan filsafat. Dari kelompok inilah (teologi dan filsafat) tampil sejumlah kelompok sufi yang filosofis atau filosofis yang sufi. Konsep-konsep mereka yang disebut dengan tasawuf falsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. ajaran filsafat yang paling banyak dipergunakan dalam analisis tasawuf adalah Paham emanasi neo-Plotinus.

Adanya pemaduan antara filsafat dengan tasawuf pertama kali di motori oleh para filsuf muslim yang pada saat itu mengalami helenisme pengetahuan. Misalnya filsuf muslim yang terkenal yang membahas tentang Tuhan dengan menggunakan konsep-konsep neo-plotinus ialah Al-Kindi. Dalam filsafat emanasi Plotinus roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tapi, sama dengan Pythagoras, dia berpendapat bahwa roh masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor, dan tak dapat lagi kembali ke Tuhan. Selama masih kotor, ia akan tetap tinggal di bumi berusaha. dari sini di tarik ke dalam ranah konsep tasawuf yang berkeyakinan bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai Sifat madzohir dari sifat tuhan.

Namun istilah tasawuf falsafi bulum terkenal pada waktu itu, setelah itu baru tokoh-tokoh sufi falfasi yang populer. Abu Yazid al-Bustami, Ibn Masarrah (w.381 H) dari Andalusia dan sekaligus sebagai perintisnya. orang kedua yang mengombinasikan antara teori filsafat dan tasawuf ialah Suhrawardi al-Maqtul yang berkembang di Persia atau Iran. Masih banyak tokoh tasawwuf falsafi yang berkembang di Persia ini sepeti al-Haljj dengan konsep al-Hulul yakni perpaduan antara Mansusia dengan sifat-sifat tuhan.

Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah..Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya,setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur beserta para tokohnya yaitu ; hulul,wadah al~wujud, insan kamil, Wujud Mutlak.

Perkembangan Tasawuf Falsafi
Perkembangan puncak dari tasawuf falsafi, sebenarnya telah dicapai dalam konsepsi al-wahdatul wujud sebagai karya pikir mistik Ibn Arabi. sebelum Ibn arabi muncul teorinya seorang sufi penyair dari Mesir Ibn al-Faridh mengembangkan teori yang sama yaitu al-wahdatasa-syuhud.

Pada umumnya konsep ini diterima dan berkembang dari kaum syi’ah dan bermazhabkan Mu’tazilah. Makanya nama lain dari tasawuf falsafi juga di sebut dengan tasawuf Syi’i. diterimanya konsep-konsep atau pola pikir tasawuf falsafi di kawasan Persia, karena dimungkinkann disana dulu adalah kawasan sebelum Islam sudah mengenal filsafat.

Semenjak masa Abu Yazid al-Busthami, pendapat sufi condong pada konsep kesatuan wujud. Inti dari jaran ini adalah bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayangan dari realitas yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang hakiki adalah wujud Tuhan yang merupakan dasar dan sumber kejadian dari segala sesuatu. Dunia ini hanyalah bayangan yang keberadaannya tergantung dengan wujud Tuhan, sehingga realitas Hidup ini hakikatnya tunggal.

Atas dasar seperti itu tentang Tuhan yang seperti itu, mereka berpendapat bahwa alam dan segala yang ada termasuk manusia merupakan radiasi dari hakikat Ilahi. Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ke –Tuhanan Karena merupakan pancaran dari tuhan.

Dari renungan yang bersifat filosofis inilah sehingga menimbulkan pertentangan dalam pemikiran dunia islam lebih-lebih kepada tasawuf falsafi yang mendapat klaim penodaan agama. Tidak jarang dari tokoh falsafi ini mendapatkan hukum mati dan klaim Takfir yang dilakukan oleh para penguasa dan didukung oleh para fuqaha’ yang menganggap orang Zindiq halal darahnya , seperti al-hallaj yang dihukum mati oleh para penguasa dan para tokoh yang lain, yang dianggap kafir oleh para fuqaha’.

Yang jelas dalam islam tidak lepas dari perbedaan, baik itu berupa ideologi, doktrin, sosial , budaya, peradaban, politik dan lain-lain. Tapi yang jelas Allah SWT telah memberikan petunjuk yang sangat jelas melalui al-Qur’an dan Hadist. Perilaku manusia dapat dikatakan benar, tidak menyimpang manakala sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Ajaran apapun tidak masalah kita ikuti dan dibuat acuan kita menuju ridho Allah SWT asalkan sesuai dengan yang digariskan dalam al-Qur’an dan Hadist

Karakteristik Ajaran Pokok Para Tokoh Tasawuf Falsafi
Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional.Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya,yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.

Karakteristik dari ajaran tasawuf ini adalah
ajarannya lebih mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.
  • Mengedepankan akal mereka 
  • Ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional
Taqomat Maqomat dalam Tasawuf Falsafi
Selain maqomat maqomat yang telah ada, yaitu : taubat, sabar, waro’, kepakiran ,dzuhud, tawakkal, kerelaan, mahabbah, dan ma’rifat. Tasauf falsafi juga menjalankan maqomat maqomat yang mereka anggap kedudukannya lebih atas dari maqomat maqomat yang telah ada. Adapun maqomat maqomat itu adalah sebagai berikut :

a) Al-Fana’ dan Al-baqa
Sebelum seorang sufi bersatu dengan tuhan, maka ia harus terlebih dahulu, menghancurkan dirinya, selagi ia masih sadar akan dirinya, maka ia tidak akan bisa bersatu dengan tuhan.Peleburan diri tersebut di kenal dengan Fana (hilang-hancur), yang diiringi dengan baqa (kekal). Abu Yazid dikenal sebagai tokoh sufi yang pertama yang menimbulkan fana dan baqa, tersebut.bagian bagian al-Fana Al-fana’ ini antara lain :
  1. v Fana Nafs. Menurt Abu Yazid, manusia pada hakikatnya bisa bersatu dengan Allah, apa bila ia mapu meleburkan keberadaannya sebagai satu pribadi, sehingga ia tidak menyedari kepribadiannya. Fana nafs adalah hilangnya kesadaran kemanusianya dan menyatu kedalam irodha Allah bukan jasad dan tubuhnya yang menyatu denganZat Allah.
  2. v Fana Mistis. Yaitu hilangnya kesadaran dan perasaan di mana seorang sufi tidak merasalan lagi apa yang terjadi dalam organismenya dan tidak pula merasakan keakuannya serta alam semestanya.
b) Al-Ittihad
Al-Ittihad adalah seorang sufi yang dalam keadaan Fana (menyetu dengan tuhannya) di mana seorang sufi telah merasa dirinya besatu dengan tuhannya. Satu tingkat di mana yang di cintai telahmenjadi satu.

Dalam proses terjadinya Ittihad secarah harfiah Yazid mengungkapkan bahwa : “ sebenarnya Dia (Tuhan) berbicara melalui lidah saya sedangkan saya sendiri dalam keadaan Fana” dengan ungkapan demikian bukan bermaksud ia mengaku sebagai tuhan serpi apa yang di lakukan oleh Fir’aun.

c) Al-Hulul
yaitu Faham yang mengatakan bahwa tuhan memilih tubuh tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuhnya iti di lenyapkan. Toko sufi yang mengembangkan faham ini adalah Al-halaj.

Doktrin Hulul merupakan salah satu tipe aliran tasawuf falsafi dan merupakan perkembangan dari ittihad. . konsep alhulul ini di bawa oleh Husen Ibnu Mansur Al-Halaj yang meninggal karena dihukum mati di bagdad pada tahuan 308 H, karena paham yang mereka sebarkan itu di pandang sesat oleh penguasa pada masa itu.

Menurut al-halaj manusia dan tuhan itu mempunyai sifat ganda yaitu sifat Lahut (ketuhan)[3] dan nasut (klemanusiaan). Jiak seorang dapat menghilangkan sifat nasut, maka tuhan akan bersemayam dalam tubuhnya di karenakan tuhan memiliki sifat sasut.

d) Wahdatul Wujud
kesatuan wujud “unity of existence” faham ini di bawa oleh Ibnu Araby. Paham ini menyetakan bahwa makhluk dan hak (tuhan) dapat bersatu sebagai mana dalam faham Hulul. Sebenarnya yang merupakan wujud sesungguhnya adalah Tuhan, dan wjud yang di jadikan tuhan ini pada hakikatnya bergantung pada wujud tuhan.

Adapun karakteristik ajaran para tokoh-tokoh tasawuf ini antara lain adalah:
Al-hallaj
Al-hallaj menggunakan paham hulul. Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yangmeyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya.Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehingga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.

Abu yazid al-bustami.
Ia mengembangkan faham ittihad yaitu. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi,oleh karena itu manusia hilang kesadaranya [sebagai manusia] maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan.

sebagaimana Pengertian ittihad disebutkan dalam sufi terminologi ittihad adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu.Ittihad merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan antara dua ekssistensi. Kata ini berasal dari katawahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal.Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan.

Ibn ‘Arabi Ibn Arabi menggunakan bentuk pola akal yang bertingkat-tingkat, seperti; akal pertama, kedua, ketiga dan sampai akal kesepuluh. Dimana ia mencoba mengambarkan bahwa proses terjadinya sesuatu ini berasal dari yang satu, kalau meminjam Bahsanya plotinus ialah the one
Wahdatul-wujud
Wujud semua yang ada hanya satu dan wujud mahluk pada hakekatnya adalah wujud khaliq.Tidak ada perbedaan dari segi hakekat,kalaupun ada perbedaan hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap hakekat apa yang ada pada zat-nya dari kesatuan dzatiyah yang segala sesuatunya berhimpun padanya.
Wahdatul-adyan
Konsep wahdatul adyan adalah kesamaan agama,al-arabi memandang bahwa sumber agama adalah satu,karakteristik dari tasawuf ini adalah lebih mengedepankan akal dari pada al-qur’an dan as-sunnah.

Al-jilli
Konsep al-jilli adalah insan kamil yaitu nukhsoh atau copy tuhan,Tuhan memiliki sifat pandai,berkehendak,mendengar,dan sebagainya.Manusiapun memiliki sifat tersebut,dari konsep ini ia berusaha memberikan pemahaman kepada kita bahwa manusia adalah insan kamil dengan segala kesempurnaannya,sebab pada dirinya terdapat sifat dan nama illahi.Sama dengan al-arabi karekteristik ajarannya lebih mengedepankan akal.

Ibn Sabi’in
Ibn Sabi’in terkenal dengan fahamnya yaitu kesatuan mutlak yang menempatkan ketuhanan pada tempat pertama,sebab wujud Alloh menurutnya adalah asal segala yang ada.Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak .pemikirannya ini dirujuk dengan dalil al-qur’an,yang diinterprestasikan secara khusus dan terkadang ia memperkuatnya dengan hadis nabi saw.

Ibnu-massarah
Ia menganut faham emanasi yaitu tingkatan-tingkatan wujud yang memancar dari tuhan ,dalam fahamnya adalah materi pertama yang bersifat rohaniah,kemudian akal universal,diikuti dengan jiwa yang bersifat murakkab.

 Selangkah lagi anda jadi pengusaha!
  • Komentar Dengan Blogger
  • Komentar Dengan Facebook

0 komentar:

Post a Comment

Item Reviewed: Tashawwuf Falsafi Rating: 5 Reviewed By: Zulfan Afdhilla