Latest News
Monday, 16 April 2012

MEMAHAMI MAKNA DUA KALIMAH SYAHADAH

MEMAHAMI MAKNA DUA KALIMAH SYAHADAH
Oleh : Ahmad Sholihin, S.HI

Rasanya tidak asing lagi ditelinga kita bahwa sebagian besar dari kaum muslimin tidak hanya yang sudah dewasa bahkan anak-anak yang duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) pun tahu atau pernah dengar bahwa agama Islam memiliki 5 (lima) pondasi yang disebut dengan rukun Islam. Dari kelima pondisi tersebut, yang pertama dan yang paling utama yakni mengucapkan dua kalimah syahadah.

Mengucapkan dua kalimah syahadah adalah merupakan persaksian atau pengakuan bahwa “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah” sebagai pengakuan tauhid kepada Allah, dan yang kedua adalah pengakuan bahwa “Muhammad adalah utusan Allah” sebagai pengakuan risalah beliau.

Tapi apakah kaum muslimin sudah memahami dengan benar makna dari dua kalimah syahadah tersebut, serta bagaimana konsekwensi dari kalimat tersebut? Tulisan ini insya Allah akan membahas secara ringkas tentang makna dua kalimah syahadah tersebut serta konsekwensinya. Semoga Allah memberikan kemudahan.

Pertama :
Kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  adalah sebuah pengakuan seorang hamba terhadap eksistensi Allah sebagai ilah yang berhak disembah. Tapi sangat disayangkan sekali, kebanyakan kaum muslimin tersalah dalam memahami kalimat ini. Kita ambil contoh, sebagian besar dari kaum muslimin memahami atau mengartikan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  ini dengan “tiada tuhan selain Allah.” Pemahaman atau menterjemahkan kalimat tersebut hanya dengan “tiada tuhan selain Allah” saja belumlah tepat. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa sisi:

1.Orang kafir Quraisy pada zaman jahiliyah mereka mengakui Allah itu sebagai tuhan, hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah surah az-Zukhruf ayat 9:
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".

Ayat ini membuktikan bahwa kaum kafir Quraisy mengakui bahwa Allah itu tuhan, tapi kenapa mereka masih diseru juga dengan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ?? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan karena kalimat tersebut adalah ajakan untuk menyembah Allah semata, bukan hanya menjadikan atau mengakui Allah sebagai tuhan saja. Dari alasan yang pertama ini dapat kita simpulkan bahwa makna yang benar dari kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah “tiada sesembahan selain Allah”. Atau jika ingin dilengkapi boleh dengan “Tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah (لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ اللهُ)”.

2. Orang kafir Quraisy mereka paham betul makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), sedangkan mereka pada saat itu menyembah berhala, sehingga ketika Rasulullah mengajak mereka dengan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ yang berarti mengajak untuk menyembah kepada Allah, maka mereka menolak karena bertentangan dengan tradisi mereka, yakni menyembah berhala. Dari alas an yang kedua ini dapat dipahami bahwa kalau لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ bermakna “tiada tuhan yang disembah selain Allah”. Kalaulah kalimat tersebut hanya dipahami dengan “tiada tuhan selain Allah”, tentu mereka tidak akan menolak ajakan tersebut, karena toh mereka mengakui Allah itu tuhan, jadi tidak ada persoalan. Akan tetapi Rasulullah tetap mengkafirkan mereka padahal mereka mengakui Allah itu tuhan, hanya saja karena yang mereka sembah bukan Allah.

Setelah penulis menjelaskan makna kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ maka dapatlah diketahui bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat yang sangat penting. Kalimat yang merupakan penentu apakah seseorang itu disebut mukmin atau kafir. Karena kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ merupakan kalimat yang sangat penting, maka tentu memiliki fadhilah/keutamaan yang dimilikinya. Salah satu diantara keutamaan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah sebagaimana sabda Rasulullah :

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ اْلجَنَّةَ
“Barangsiapa yang mati, dan dia mengetahui bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah, maka ia akan masuk surga”. (HR. Muslim: 26)

Kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ terdiri dari 2 (dua) rukun, yakni:
  1. Menafikan. Yakni menafikan/menghilangkan segala sesembahan. Hal ini dapat kita lihat dari kalimat لاَ إِلَهَ (tiada sesembahan). Maksudnya di ala mini tidak ada sesembahan yang sah.
  2. Menetapkan. Yakni menetapkan bahwa yang berhak disembah hanya Allah . Ini terlihat dari kalimat إِلاَّ اللهُ (kecuali Allah).

Maksudnya dalam rukun yang pertama menafikan segala sesembahan, yakni tidak ada satupun sesembahan di permukaan bumi ini, selanjutnya ditetapkan bahwa yang disembah hanyalah Allah. Sebab telah diketahui bahwa manusia adalah hamba, setiap hamba haruslah ada ynag disembah, maka dalam rukun yang kedua (setelah sebelumnya yakni dirukun pertama dinafikan segala sesembahan) ditetapkan bahwa yang disembah hanyalah Allah . Kedua rukun tersebut adalah seiring dan sejalan, tidak boleh hanya menggunakan rukun yang pertama saja lalu menghilangkan rukun yang kedua. Sebab jika hanya menggunakan rukun yang pertama saja, maka jadilah atheis (tidak mengakui tuhan), dan jika hanya menggunakan rukun yang kedua saja maka jadilah kaum yang berpaham wahdatul wujud (meyakini bahwa segala sesuatu adalah Allah).

Kedua
Kalimat مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ adalah sebuah kalimat pengakuan terhadap kerasulan nabi Muhammad . Kalimat tersebut tidak hanya sekedar percaya bahwa Rasulullah adalah utusan Allah saja, tapi kalimat tersebut memiliki konsekwensi yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang mengakui bahwa Muhammad adalah Rasulullah.
Adapun konsekwensi dari kalimat مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ (Muhammad adalah utusan Allah) adalah :

1. تَصْدِيْقُهُ فِيْمَا أَخْبَرَ (membenarkan semua berita yang shahih dari beliau).
Setiap berita yang datang dari Rasulullah selama riwayat tersebut shohih, maka wajib kita menerimanya walaupun bertentangan dengan akal. Sebab apa yang dikatakan oleh rasulullah adalah benar adanya, dan ini merupakan konsekwensi kita mengimani bahwa beliau adalah utusan Allah. Sebab apa yang beliau ucapkan bukanlah kehendak nafsunya atau kemauan beliau sendiri, tapi apa yang beliau ucapkan adalah wahyu dari Allah . Hal ini telah diterangkan oleh Allah dalam surah an-Najm ayat 3-4:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Sebagai contoh adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 2901:
إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ : خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، وَدَآبَّةُ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ.


Sesungguhnya kiamat tidak akan tegak hingga datangnya 10 (sepuluh) tanda, yakni:
  1. Penenggelaman bumi bagian timur;
  2. Penenggelaman bumi bagian barat;
  3. Penenggelaman bumi di jazirah Arab;
  4. Keluarnya asap;
  5. Keluarnya Dajjal;
  6. Munculnya binatang Dabbah;
  7. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj;
  8. Terbitnya matahari dari barat;
  9. Keluarnya api yang menggiring manusia ke lembah ‘Adn;
  10. Turunnya nabi Isa .
Kesepuluh tanda tersebut memang belum muncul, akan tetapi itu adalah berita dari Rasulullah yang shohih, maka wajib kita meyakininya walaupun mungkin ada yang bertentangan dengan akal. Tapi itu merupakan konsekwensi dari mengimani Rasulullah sebagai utusan Allah.

2. طَاعَتُهُ فِيْمَا أَمَرَ (menta’ati apa-apa yang beliau perintahkan)
Segala perintah dari Rasulullah wajib kita laksanakan. Sebab keta’atan kepada beliau merupakan penentu seseorang itu dikatakn ta’at kepada Allah. Jika seseorang menta’ati Allah maka ia juga harus menta’ati Rasulullah . Sebagaimana firman Allah dalam surah an-Nisa ayat 59 :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya)…”.

Juga firman Allah dalam surah an-Nisa ayat 80 :
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka……”.

Perhatikanlah ayat di atas! Ayat tersebut menetapkan bahwa keta’atan kepada Rasul adalah bukti bahwa seseorang itu ta’at kepada Allah. Sebab tidak mungkin seseorang menta’ati Allah kalau dia tidak ta’at kepada Rasulullah . Bagaimana ia akan menta’ati Allah sedangkan utusannya tidak dita’ati? Bagaimana dia tahu apa-apa saja yang disukai Allah tanpa melalui Rasulullah? APakah mungkin ia langsung dapat perintah dari Allah tanpa melalui Rasulullah ?
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bermaksiyat kepada Rasul yakni tidak menta’ati Rasul, maka berarti ia bermaksiyat pada Allah. Silahkan baca hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 6604 :

....وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ عَصَى اللهَ....
“….Barangsiapa yang bermaksiyat kepadaku (nabi Muhammad) maka sungguh ia telah bermaksiyat kepada Allah….”

Kenapa Allah memerintahkan kepada kita untuk menta’ati Rasulullah? Karena dalam diri Rasulullah terdapat tauladan yang patut kita contoh. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 21 :
……
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…

Sebagai contoh perintah Rasulullah adalah sebagaimana yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 3320:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي اْلأَخَرِ شِفَاءً
“ Apabila seekor lalat jatuh kedalam tempat air minum salah satu diantara kalian, maka celupkanlah. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayapnya yang lain terdapat obat penawar.”

Perhatikanlah hadits tersebut di atas, Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk mencelupkan lalat apabila jatuh kedalam tempat air minum kita. Sepintas rasanya aneh, tapi ini adalah perintah Rasulullah, wajiblah bagi kita untuk menta’atinya, walaupun bertentangan dengan akal. Dan di zaman modern ini, perkara tersebut telah diteliti oleh medis, dan apa yang dikatakan oleh rasulullah adalah benar adanya, bahwa elupan sesekor lalat pertama sekali kedlam air minum kita ternyata mengandung obat. Maka sebagai orang yang mengimani kerasulan beliau wajib melaksanakn perintahnya sebagai konsekwensi dari syahadat مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ

3. اجْتِنَابُ مَا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ (menjauhkan diri dari apa-apa yang dilarangnya)
Ini merupakan konsekwensi yang ketiga dari keyakinan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Setiap muslim yang mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah, maka wajib bagi dirinya untuk meninggalkan apa-apa yang dilarangannya tanpa terkecuali. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Hasyr ayat 7 :

“…..Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengambil apa-apa yang dating dari Rasulullah , yakni mengambil syari’at dari beliau. Dan Allah juga dengan tegas memerintahkan kepada kita untuk meninggalkan apa yang dilarang oleh Rasulullah . Ini merupakan konsekwensi dari syahadat مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ .
Diantar larangan Rasulullah kepada ummatnya adalah sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 3445:

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku (Muhammad) sebagaimana berlebih-lebihnya orang nasrani dalam memuji Isa bin Maryam. Maka sesungguhnya aku adalah hambanya. Maka katakanlah hamba Allah dan utusannya.”

Hadits tersebut melarang kita untuk berlebih-lebihan dalam memuji beliau sebagaimana kaum nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam, yakni menuhankan Isa. Rasulullah melarang kita memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada Rasulullah . Maka agar tidak terjadi kesalah-pahaman beliau menegaskan bahwa beliau adalah seorang hamba dan utusan Allah. Tentunya berbeda sifat seorang hamba dengan tuhannya. Oleh sebab itu jangan samakan Rasulullah dengan Allah . Seperti meminta pertolongan kepada beliau , bertawassul, meminta ampun, meminta rezeki, berkah dan lain sebagainya yang tidak sanggup Rasulullah untuk melakukannya.

4. أَنْ لاَ يَعْبُدَ اللهَ إِلاَّ بِمَا شَرَعَ (tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’at yang ditetapkan oleh beliau )

Ini merupakan konsekwensi yang keempat dari pengakuan bahwa Rasulullah adalah seorang utuasan Allah . Seorang muslim yang mengakui akan risalah yang beliau bawa, harus senantiasa beribadah kepada Allah sesuai dengan syari’at yang dibawa oleh Rasulullah .
Islam tidak pernah mengajarkan kepada pengikutnya dalam beribadah kepada Allah dengan membuat tata cara peribadatan tersendiri. Tapi Islam telah mengajarkan segala aspek ibadah dan telah ditetapkan syari’atnya. Karena agama Islam telah sempurna tidak perlu adanya penambahan. Segala hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dan memasukkan kita ke surga adalah telah disampaikan oleh Rasulullah , dan segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah serta membawa ke neraka telah disampaikan oleh Rasulullah . Jadi tidak ada kebaikan yang belum tersampaikan dan tidak ada kejelekan yang belum tersampaikan, karna Islam telah sempurna.
Islam telah melarang pemeluknya untuk beribadah selain dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah . Dan amalan yang tidak memiliki dasar dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah akan ditolak, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 2697 :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan yang tidak ada dasar perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Bahkan tidak hanya sampai disitu saja, terhadap orang yang sudah mengetahui sunnah Rasulullah , tetapi tidak mahu melakukannya, maka Rasulullah mengancam bahwa dia bukan termasuk pengikutnya. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 5063:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka ia bukan golongan-ku”

Maka seyogyanya kita beribadah kepada Allah hanya sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah . Jauhilah amalan yang tidak berlandaskan tuntunan Rasulullah , karena amalan tersebut akan tertolak nantinya.
Banyak sekali perintah dari Allah dan Rasul-Nya agar kita beribadah hanya mengikuti tatacara Rasulullah . Seperti sabda beliau yang sangat terkenal yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 631:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّى
“Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku (nabi Muhammad) sholat.”

Tentunya kita tidak akan mungkin melihat Rasulullah karena beliau telah wafat, tetapi cara beliau sholat dan beribadah kepada Allah telah banyak disebutkan dalam hadits-hadits yang shohih, maka hendaknyalah kita metujuknya.

Demikianlah makna dan konsekwensi syahadat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ . Semoga Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mencucuri rahmat-Nya kepada kita dan memudahkan bagi kita untuk mengamalkan apa yang telah kita ketahui. Amin.

Dipos Ulang Oleh Akiy Zulfan

 Selangkah lagi anda jadi pengusaha!
  • Komentar Dengan Blogger
  • Komentar Dengan Facebook
Item Reviewed: MEMAHAMI MAKNA DUA KALIMAH SYAHADAH Rating: 5 Reviewed By: Zulfan Afdhilla